Logo Bloomberg Technoz

Arus Kas Operasional Membaik, TOBA Siap Perluas Bisnis


Fasilitas Sembcorp Environment./dok. TBS Energi Utama
Fasilitas Sembcorp Environment./dok. TBS Energi Utama

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT TBS Energi Utama Tbk atau TOBA menunjukkan perbaikan fundamental bisnis pada kuartal pertama 2026. Perseroan mencatat peningkatan kinerja operasional di tengah transformasi menuju bisnis hijau dan berkelanjutan.

Transformasi tersebut dilakukan melalui pengembangan tiga sektor utama, yakni pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik. Strategi ini menjadi langkah penting TOBA untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis batu bara.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2026, TOBA berhasil mencatat arus kas operasional positif sebesar US$9,9 juta. Capaian tersebut berbalik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih negatif US$2,9 juta.

Perbaikan arus kas menjadi indikator penting dalam fase transformasi perusahaan. Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan bisnis baru TOBA dalam menghasilkan kas secara lebih stabil.

“Dengan posisi kas yang memadai dan pengelolaan modal kerja yang terjaga, TBS memiliki fleksibilitas dan kapasitas untuk mendukung rencana ekspansi internasional secara bertahap,” ujar Analis Ajaib Sekuritas Rizal Rafly.

Sebelumnya, TOBA dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di sektor tambang dan perdagangan batu bara. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perseroan mulai mengalihkan fokus bisnis ke sektor berkelanjutan.

Menurut Rizal, langkah transformasi ini mencerminkan peningkatan kualitas operasional perusahaan. TOBA dinilai mulai mampu menghasilkan arus kas yang lebih konsisten dari lini bisnis baru.

“Peralihan dari arus kas negatif ke positif menunjukkan adanya perbaikan dalam kemampuan menghasilkan kas dari bisnis baru,” ujarnya.

Bisnis Limbah dan Kendaraan Listrik Jadi Penopang

Dari sisi pendapatan, TOBA mencatat pertumbuhan konsolidasi sebesar 20,5 persen secara tahunan menjadi US$86,3 juta. Sementara laba kotor meningkat 46,7 persen menjadi US$10,4 juta.

Kinerja positif terutama didorong oleh segmen pengelolaan limbah. Pendapatan dari sektor ini melonjak hingga 5,5 kali lipat menjadi sekitar US$51,9 juta.

Kontribusi segmen pengolahan limbah bahkan mencapai hampir 60 persen terhadap total pendapatan perusahaan. Capaian tersebut menjadikan bisnis limbah sebagai kontributor utama pendapatan dan EBITDA TOBA.

TOBA melalui CORA kini menjadi salah satu pemain utama pengelolaan limbah di Singapura dan kawasan regional. Hal ini membuka peluang pertumbuhan yang dinilai masih sangat besar.

Selain bisnis limbah, pengembangan kendaraan listrik melalui Electrum juga menunjukkan kemajuan. Jumlah unit motor listrik yang beroperasi meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Per Maret 2026, jumlah motor listrik yang beroperasi mencapai 9.082 unit. Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 5.100 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan ini juga didukung oleh perluasan infrastruktur kendaraan listrik. Hingga kini, Electrum telah memiliki 426 stasiun penukaran baterai.

Ekspansi infrastruktur dinilai penting untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di masyarakat. TOBA melihat sektor ini sebagai salah satu motor pertumbuhan bisnis ke depan.

Di sektor energi terbarukan, pembangkit listrik tenaga mini hidro berkapasitas 6 MW telah beroperasi penuh. Proyek tersebut mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan perusahaan.

Selain itu, TOBA juga tengah mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 46 MWp. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.

Meski masih mencatat rugi bersih sebesar US$9,5 juta, nilai tersebut turun signifikan hingga 84 persen secara tahunan. Penurunan rugi menunjukkan perbaikan struktur bisnis perusahaan.

Sebagian besar rugi bersih tersebut bersifat non-kas setelah integrasi penuh CORA di Singapura. Hal ini membuat tekanan terhadap operasional perusahaan relatif lebih terkendali.

Rizal menilai penurunan rugi bersih mencerminkan mulai berkurangnya dampak dari divestasi bisnis batu bara. Selain itu, kontribusi lini bisnis baru juga mulai terlihat.

“Penurunan rugi bersih mengindikasikan bahwa Perseroan bergerak menuju fase yang lebih stabil, dengan jalur yang semakin jelas menuju profitabilitas,” ujarnya.

Transformasi bisnis TOBA dinilai menjadi salah satu contoh pergeseran model usaha di sektor energi nasional. Perseroan berupaya menyesuaikan diri dengan tren global menuju ekonomi hijau.

Ke depan, TOBA diperkirakan akan terus memperkuat bisnis berkelanjutan sebagai sumber pertumbuhan utama. Fokus tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan energi bersih dan pengelolaan lingkungan.

Dengan posisi kas yang lebih baik serta penguatan lini bisnis hijau, TOBA optimistis dapat mempercepat ekspansi. Perseroan juga menargetkan pertumbuhan bisnis yang lebih stabil dan berkelanjutan di masa mendatang.