Konflik di Timur Tengah menjadi beban bagi harga emas. Meski sedang dalam masa gencatan senjata, Amerika Serikat (AS) dan Iran ternyata masih saling menembakkan peluru.
Saat ini, militer AS sedang berupaya mengawal kapal-kapal yang ingin melalui Selat Hormuz. Mengutip Bloomberg News, AS memerangi serangan Iran saat memandu dua kapal berbendera Negeri Paman Sam.
Tensi kian meninggi kala Uni Emirat Arab (UAE) mengungkapkan telah mencegah rudal jelajah yang disebut ditembakkan Iran. UAE juga menegaskan serangan drone Iran menyebabkan kerusakan di Pelabuhan Fujairah.
Apabila konflik terus berkepanjangan, maka harga energi dunia akan terus melonjak. Kemarin, harga minyak jenis brent melesat 5,8% ke US$ 114,44/barel, tertinggi sejak Juni 2022 atau hampir empat tahun terakhir.
“Kita mungkin akan melihat perang ini menyebabkan kenaikan harga pangan, selain harga bensin yang tinggi. Jadi ada risiko tekanan ini akan terasa di inflasi inti. Apabila isu harga minyak terus berlanjut, maka bisa saja langkah The Fed (Federal Reserve, Bank Sentral AS) berikutnya adalah kenaikan suku bunga acuan,” papar Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, kepada Bloomberg News.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan terasa kurang menguntungkan saat suku bunga betul-betul naik.
(aji)































