Peringatan tersebut menyusul insiden terpisah di luar Selat Hormuz, di mana sebuah kapal tanker milik perusahaan minyak negara Abu Dhabi National Oil Co (ADNOC) dihantam oleh drone Iran.
Kabar serangan ini langsung memicu gejolak di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 6% dan ditutup di atas US$106 per barel, sementara minyak mentah AS naik lebih dari 4% mendekati US$114 per barel.
Insiden ini mengguncang kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 8 April lalu. Sejumlah pihak kini mendesak AS dan sekutunya, Israel, untuk melanjutkan serangan militer terhadap Iran—yang sebelumnya telah menghancurkan ribuan target, menewaskan pemimpin tertinggi Iran, dan menyebabkan penutupan Selat Hormuz.
Senator Lindsey Graham dari Partai Republik menegaskan bahwa tindakan Iran menyerang UEA dan kapal kargo merupakan pembenaran bagi AS untuk memberikan respons yang "besar, kuat, dan singkat demi menghancurkan mesin perang Iran." Senada dengan itu, mantan PM Israel Naftali Bennett menyebut serangan ke UEA sebagai "deklarasi dimulainya kembali perang Iran terhadap sekutu AS dan Israel di kawasan."
Laksamana Cooper berulang kali menolak menjawab pertanyaan terkait apakah gencatan senjata telah dilanggar. Dalam pengarahan terpisah, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengatakan pihaknya “menyerahkan kepada Gedung Putih” untuk menentukan adanya pelanggaran gencatan senjata.
“Situasinya sangat dinamis,” ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan via X bahwa pembicaraan dengan AS sebenarnya sedang "mengalami kemajuan." Namun, ia memperingatkan AS dan UEA agar “harus berhati-hati agar tidak kembali terjebak dalam situasi buntu akibat pihak-pihak yang tidak menginginkan perdamaian.”
‘Project Freedom’
Saat mengumumkan rencana untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak keluar dari Teluk Persia—yang disebut sebagai Project Freedom—Trump mengatakan sejumlah negara telah meminta bantuan AS untuk membebaskan kapal mereka.
Pada Senin sore, Trump menyatakan kapal-kapal komersial dari berbagai negara telah “disandera oleh tempat yang cukup jahat, tetapi kami sedang menanganinya,” serta kembali menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Eskalasi kekerasan pada Senin kembali menyoroti kegagalan AS dan Iran mencapai kesepakatan jangka panjang.
“Semua ini menegaskan bahwa gencatan senjata AS-Iran sangat rapuh,” tulis analis pertahanan Bloomberg Economics Becca Wasser dalam catatan riset pada Senin. “Pandangan kami tetap bahwa hasil paling mungkin adalah konflik berkepanjangan dengan ketegangan yang terus berlangsung dan pertempuran sporadis yang menjaga harga minyak tetap tinggi.”
Di pusat perselisihan adalah Selat Hormuz, di mana Iran telah memblokir hampir seluruh lalu lintas pelayaran. Teheran menyatakan hanya akan membuka kembali selat tersebut jika AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran.
Menanggapi pertanyaan soal ranjau laut Iran di Hormuz, Laksamana Cooper mengatakan bahwa jumlahnya “tidak begitu besar” sehingga AS tidak dapat menggunakan “teknologi canggih” untuk membuka jalur. Ia menambahkan bahwa AS telah menggunakan kemampuan deteksi rendah (low-observable capability)", yang mengindikasikan penggunaan drone bawah laut.
Perang yang dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran telah menewaskan lebih dari 5.500 orang, sebagian besar di Iran dan Lebanon.
(bbn)




























