Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan barang kumulatif periode Januari-Maret 2026 tercatat mengalami surplus US$5,55 miliar. Surplus ini ditopang oleh komoditas non-migas yang mencapai US$10,63 miliar, sementara komoditas migas tercatat defisit US$5,08 miliar.
Kendati demikian, secara historis, surplus kumulatif periode tahun ini merosot tajam hampir separuhnya, dari total surplus Januari-Maret 2025 yang mencapai US$10,91 miliar. Saat itu, nonmigas mengalami surplus mencapai US$15,75 miliar, sementara komoditas migas defisit US$4,84 miliar.
Secara kumulatif, komoditas nonmigas yang paling banyak memberi surplus antara lain berasal dari komoditas lemak dan minyak hewani/nabati dengan surplus US$8,68 miliar, bahan bakar mineral US$6,22 miliar, besi dan baja US$4,29 miliar, nikel dan barang daripadanya US$3,24 miliar, serta alas kaki US$1,49 miliar.
Di sisi lain, komoditas nonmigas yang paling besar memberi defisit ialah komoditas mesin dan peralatan mekanis yang mencapai US$7,47 miliar. Kemudian, mesin dan perlengkapan elektrik US$3,61 miliar, plastik dan barang dari plastik US$1.9 miliar, serelia US$1,04 miliar. Terakhir, instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis sebesar 850 juta.
(lav)



























