Logo Bloomberg Technoz

Pada hari Minggu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan pihaknya telah menerima respons AS terhadap rencana 14 poin yang diajukannya melalui Pakistan—yang bertindak sebagai perantara—dan sedang meninjaunya.

Trump mengaku telah menerima pengarahan mengenai "konsep kesepakatan" tersebut pada hari Sabtu (2/4), namun ia meragukan apakah dokumen itu dapat diterima. Ia bahkan menegaskan tidak akan ragu untuk memulai kembali serangan ke sasaran-sasaran Iran jika para pemimpin di sana "bertindak tidak semestinya."

"Saya akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada kami, tetapi saya sulit membayangkan itu akan diterima. Mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.

Presiden AS tersebut dilaporkan frustrasi dengan lambatnya kemajuan pembicaraan untuk mengakhiri konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Ribuan orang telah tewas di seluruh Timur Tengah sejak saat itu, dengan korban terbanyak berada di Iran dan Lebanon.

Kementerian Luar Negeri Iran pada Minggu menyatakan bahwa utusan utama negara tersebut, Abbas Araghchi, telah memberi penjelasan kepada mitranya dari Oman mengenai upaya terbaru untuk mengakhiri perang. Namun, tidak ada rincian lebih lanjut terkait pembicaraan tersebut.

Harga energi melonjak tajam akibat terhambatnya arus di Selat Hormuz, jalur perairan di selatan Iran yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Kondisi ini memicu kekhawatiran di Gedung Putih bahwa Partai Republik bisa mengalami kekalahan besar dalam pemilu sela November mendatang, seiring warga AS menghadapi lonjakan harga bahan bakar.

Negara-negara utama OPEC+ pada Minggu menyepakati kenaikan moderat dan bersifat simbolis terhadap kuota produksi Juni, menurut para delegasi. Tujuh negara, yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia, setidaknya di atas kertas akan menambah produksi sebesar 188.000 barel per hari bulan depan dalam kesepakatan tersebut.

Langkah yang diperkirakan ini, menyusul keluarnya Uni Emirat Arab dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang efektif berlaku 1 Mei, dinilai sebagian besar bersifat simbolis karena kelompok tersebut tidak akan mampu merealisasikan peningkatan produksi selama Selat Hormuz masih diblokade.

Jalur perairan tersebut tetap menjadi pusat kebuntuan. Setelah Iran secara efektif menutup selat tersebut, AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran guna menekan perekonomian negara itu dan membatasi ekspor minyaknya.

Menteri Luar Negeri Araghchi mengindikasikan bahwa Teheran siap melanjutkan upaya diplomatik jika Amerika Serikat mengubah pendekatannya dan menghindari “tuntutan berlebihan, retorika ancaman, dan tindakan provokatif.” Ia menegaskan militer Iran tetap “sepenuhnya waspada.”

Iran, yang telah lama mempersiapkan skenario seperti ini, mulai memangkas produksi minyak seiring kapasitas penyimpanan yang kian penuh, lapor Bloomberg pada Sabtu. Langkah tersebut bertujuan mengantisipasi batas kapasitas penyimpanan, menurut seorang pejabat senior Iran yang enggan disebutkan namanya karena sensitivitas informasi.

Harga minyak sempat turun pada Jumat setelah menyentuh level tertinggi selama masa perang pada awal pekan. Minyak mentah Brent ditutup di kisaran US$108 per barel, dengan kenaikan mingguan sekitar 2,7%. Sementara itu, harga bensin di AS melonjak hingga jauh di atas US$4 per galon.

(bbn)

No more pages