Logo Bloomberg Technoz

Anne menambahkan, sejak kemarin pukul 06.00 waktu Indonesia bagian barat (WIB), terdapat 115 barang yang telah ditemukan dan 57 barang sudah diserahkan kepada pemilik. Sementara 58 barang lainnya masih dalam proses verifikasi. 

“KAI mengimbau pelanggan yang merasa kehilangan barang untuk dapat mengambilnya melalui Posko Bekasi Timur,” ungkap Anne dalam keterangan tertulis.

Di sisi lain, Kepolisian Daerah atau Polda Metro Jaya telah menaikkan status kasus kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL ke tingkat penyidikan. Keputusan diambil usai penyidik memeriksa 31 orang saksi untuk menyusun rangkaian peristiwa kecelakaan. 

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya Komisaris Besar (Kombes) Budi Hermanto mengatakan, penyidik memeriksa sejumlah saksi yang terdiri dari masinis, supir taksi listrik Green SM, petugas operasional KAI, korban, warga di sekitar lokasi, dan sejumlah nama yang mengetahui detil peristiwa.

Selain itu secara paralel, polisi juga mengumpulkan dan memeriksa barang bukti rekaman kamera pengawas, informasi rumah sakit, dan data visum korban. 

Rencananya, polisi juga akan meminta keterangan dari Dinas Tata Ruang, Dinas Pekerjaan Umum, pihak Green SM, dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian.

Kronologi Singkat

Sementara itu, insiden tersebut bermula saat salah satu armada taksi listrik milik perusahaan asal Vietnam, Green SM, diduga mengalami korsleting dan berhenti di tengah perlintasan kereta, tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur. Kemudian, terjadi temperan atau tabrakan antara KRL Bekasi-Cikarang dengan satu unit taksi listrik yang mogok di perlintasan sebidang JPL 85 pada Senin malam.

Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler. Kecelakaan tersebut berdampak pada rangkaian KRL dan perjalanan kereta api lainnya, salah satunya rangkaian KRL dengan kode PLB 5568 arah Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur. 

Tak lama berselang, Kereta Api Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta-Surabaya tetap melaju kencang dari Stasiun Bekasi. Kereta tersebut tak sempat berhenti sepenuhnya saat masuk ke Stasiun Bekasi Timur dan menabrak rangkaian KRL PLB 5568 tengah berhenti.

Kemenhub Sidak Pool Green SM

Pada Selasa (28/4/2026) malam, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia (RI) menggelar inspeksi mendadak atau sidak ke pool taksi Green SM di Bekasi, Jawa Barat. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub RI Aan Suhanan mengatakan pihaknya membentuk tim khusus untuk mendalami keterkaitan taksi listrik tersebut dalam tragedi kecelakaan kereta ini.

Berdasarkan Sistem Perizinan Angkutan Jalan (Siprajab) kendaraan taksi bernomor polisi B 2864 SBX yang dianggap terkait dengan kecelakaan maut itu tercatat legal dan memiliki kartu pengawasan hingga Oktober 2026, serta beroperasi sebagai taksi reguler di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Aan mengatakan kementeriannya bakal melakukan pendalaman untuk memastikan kepatuhan operator terhadap seluruh ketentuan yang berlaku. 

Menurut dia, sanksi berpotensi untuk dikenakan ke Green SM apabila terbukti melanggar ketentuan perundang-undangan dan peraturan setingkat menteri perhubungan. Sebab, kata dia, kini perusahaan tersebut telah mempunyai sertifikat Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU) yang berlaku selama 5 tahun.

“Kami tegas akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut serta keterlibatan taksi Green SM dalam kecelakaan ini. Nantinya hasil pendalaman akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya,” kata Aan. 

Investigasi Belum Rampung

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tengah melakukan investigasi secara komprehensif soal penyebab kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur tersebut. Sejumlah informasi menyebut adanya kesalahan sistem sinyal kereta api yang terlambat memberi informasi kepada KA Argo Bromo Anggrek untuk berhenti atau melambat sebelum masuk ke Stasiun Bekasi Timur.

Sejumlah desakan pun mulai menyorot manajemen KAI usai kecelakaan mematikan tersebut. Pemerintah pun menyoroti sejumlah sarana dan prasarana perkeretaapian, terutama usia armada yang digunakan.

KAI Tanggung Biaya dan Beri Kompensasi

Presiden Prabowo Subianto sempat menjenguk para korban tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL yang menjalani perawatan di RSUD Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi, Selasa (28/4/2024) pagi. Seusai bertemu mereka, Kepala Negara memastikan pemerintah akan memberikan kompensasi kepada seluruh korban dalam insiden tersebut.

“Nanti semuanya ada kompensasinya,” kata Prabowo, dikutip Selasa (28/04/2026). 

Pemerintah pun memastikan bakal menanggung biaya pengobatan dan perawatan para korban. Dana akan ditanggung KAI, asuransi, dan pemerintah daerah (pemda). KAI juga mengeklaim bakal menanggung biaya pemakaman bagi korban dari kecelakaan tersebut.

Pemerintah akan Bangun Jembatan Layang

Selanjutnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto memastikan anggaran pembangunan jembatan layang atau flyover di perlintasan kereta api berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini merespons pernyataan Prabowo yang telah menyetujui usulan pemda Bekasi untuk membangun jembatan layang. 

Kepala Negara menyetujui hal tersebut usai insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di kawasan Bekasi Timur. “Ya, kalau anggaran kan selalu sumbernya sama [APBN],” kata Airlangga saat dimintai konfirmasi, Selasa (28/4/2026). 

Sebelumnya, Prabowo sudah mengidentifikasi bahwa perlintasan kereta api tak dijaga dengan baik, termasuk di kawasan padat penduduk seperti Bekasi. Lalu pemerintah menghitung ada 1.800 titik perlintasan sebidang di Jawa yang juga tidak dijaga dengan baik.

Pemerintah bakal memperbaiki perlintasan sebidang itu setidaknya melalui dua hal, yakni membangun pos jaga atau jembatan layang.

“Kita perhitungkan sekitar hampir Rp4 triliun ya demi keselamatan dan demi karena kita sangat penting kita sangat perlu kereta api kita akan keluarkan itu sekarang saatnya sudah berapa puluh tahun tidak dilakukan kita sekarang lakukan,” ujar Prabowo.

(far/frg)

No more pages