Logo Bloomberg Technoz

Para pelaku pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kembalinya perseteruan fisik dan penutupan jangka panjang Selat Hormuz. Jalur ini sangat krusial bagi aliran minyak dan gas global, namun efektif terhenti sejak AS dan Israel memulai perang pada 28 Februari lalu.

Di AS, harga bahan bakar di pom bensin melonjak tajam. Rata-rata nasional mencetak rekor baru, sementara harga bensin eceran di California meroket hingga melampaui US$6 per galon. Situasi ini kian mengkhawatirkan bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu.

“Harga bensin akan turun,” dalih Trump. “Segera setelah perang berakhir, harganya akan jatuh drastis.”

Sebelumnya pada hari Kamis, Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menyatakan keraguannya atas peluang tercapainya kesepakatan. Dalam pernyataan langka, ia bersumpah tidak akan menyerahkan teknologi nuklir maupun rudal Iran, serta memberi sinyal bahwa Teheran akan tetap memegang kendali atas Selat Hormuz.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan dalam unggahan di media sosial bahwa ia menganggap blokade laut AS sebagai "perpanjangan dari operasi militer" dan menyebut tindakan tersebut "tidak dapat diterima."

Di sisi lain, laporan dari Axios menyebutkan bahwa para komandan militer AS dijadwalkan memberikan pengarahan kepada Trump mengenai berbagai opsi pada Kamis ini. Centcom, yang membawahi pasukan Amerika di Timur Tengah, dilaporkan telah menyiapkan rencana serangan singkat untuk memecahkan kebuntuan negosiasi.

"Trump ingin mengakhiri perang Iran, tetapi tidak dengan syarat yang diajukan oleh Teheran," ujar Becca Wasser dan Chris Kennedy, analis dari Bloomberg Economics. "Ini menunjukkan bahwa pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan melakukan eskalasi untuk mendapatkan tawaran yang lebih baik, melainkan kapan dan bagaimana. Kami memperkirakan jendela tindakan kemungkinan besar terjadi dalam dua minggu ke depan, dengan serangan udara AS menjadi langkah yang paling mungkin diambil."

Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz untuk kapal komersial sampai AS mencabut blokadenya. Hingga kini, belum jelas berapa lama lagi Iran bisa bertahan sebelum kapasitas penyimpanan minyaknya habis dan terpaksa memangkas produksi secara total.

Tanda-tanda tekanan pada ekonomi Iran kian nyata dalam beberapa hari terakhir, ditandai dengan nilai tukar mata uang mereka yang melemah ke titik terendah baru.

(bbn)

No more pages