“Mulai dari dini hari sampai pagi ini, kawan-kawan dari BPOM melakukan survei langsung ke SPPG, salah satunya Manggarai Selatan, sebagai tindak lanjut pertemuan dengan Komisi IX DPR RI,” ujar Taruna Ikrar saat sidak.
Ia menegaskan pengawasan dilakukan demi memastikan makanan yang diterima masyarakat benar-benar aman. “Kami ingin memastikan makanan yang sampai ke anak-anak dan adik-adik kita yang ada di SMP, SMA, SD, bahkan PAUD, juga ibu hamil, benar-benar terjamin keamanannya, pasti dan jelas sumbernya. Kami ingin memastikan, bukan pangan kalau tidak aman,” tegasnya.
Taruna menjelaskan, pengawasan BPOM juga mencakup tindak lanjut terhadap kejadian luar biasa keamanan pangan, termasuk dalam pelaksanaan Program MBG. Menurut dia, di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, BPOM tetap menjalankan fungsi pengawasan secara optimal untuk mencegah potensi insiden keamanan pangan sejak dini.
“Monitoring yang baik serta tindak lanjut yang cepat dalam pelaksanaan MBG akan berdampak terhadap keberhasilan program karena risiko insiden keamanan pangan dapat dihindari sejak awal,” katanya.
Selain di Tebet, sidak dilakukan secara serentak di empat lokasi lainnya. Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan Sondang Widya E.S menginspeksi SPPG Palmerah, Jakarta Barat, yang melayani sekitar 3.800 penerima manfaat. Direktur Pengawasan Peredaran Pangan Olahan Didik Joko Pursito mendatangi SPPG Jatinegara Kampung Melayu 01 dengan 2.905 penerima manfaat.
Sementara itu, Direktur Registrasi Pangan Olahan Sintia Ramadhani mengunjungi SPPG Tanah Tinggi, Johar Baru, yang melayani 2.270 penerima manfaat. Kepala Balai Besar POM di Jakarta Sofiyani Chandrawati Anwar juga melakukan inspeksi ke SPPG Sunter Jaya 1 yang menyiapkan makanan bergizi bagi 2.932 penerima manfaat.
Dari hasil inspeksi, BPOM menilai secara umum operasional kelima SPPG telah berjalan sesuai ketentuan. Namun, terdapat sejumlah catatan perbaikan minor untuk memperkuat penerapan praktik keamanan pangan.
“Kami datang untuk memastikan program MBG ini berjalan semakin baik. Kunjungan ini adalah bentuk monitoring BPOM agar kita bisa bersama-sama melakukan continuous improvement. Hasilnya nanti akan kami sampaikan ke BGN sebagai masukan,” ujar Taruna.
Kepala SPPG Yayasan Bina Siwi Oku Timur Muhammad Abrar Hariswan menyambut baik kunjungan tersebut. “Kami beserta tim dapur Tebet Manggarai Selatan berkomitmen memberikan makan bergizi gratis kepada seluruh masyarakat Indonesia dengan menjamin keamanan dan mutu pangan,” katanya.
Dalam diskusi dengan personel SPPG, BPOM menyoroti pentingnya keberadaan pengawas keamanan pangan di setiap dapur layanan. Menurut BPOM, pengawas ini dibutuhkan untuk memastikan standar keamanan pangan dijalankan secara konsisten sekaligus memberikan edukasi berkelanjutan kepada para relawan.
BPOM juga mencatat sejumlah praktik positif di lapangan, seperti chef tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) di SPPG Jatinegara, pelatihan higiene dan sanitasi bagi seluruh penjamah pangan, pengujian organoleptik, hingga penerapan sampel per tinggal untuk setiap menu.
Meski demikian, BPOM menilai beberapa aspek cara produksi pangan olahan yang baik masih perlu diperkuat melalui intervensi berulang dan dukungan sumber daya dari yayasan pengelola. “Saya berharap semua pihak dapat bersinergi mendukung keberhasilan program ini,” tutup Taruna.
(dec)





























