Logo Bloomberg Technoz

Liza menerangkan, dari sisi moneter keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan juga belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilisasi rupiah. 

“Ini mengindikasikan perlunya peran yang lebih agresif dan intensif, khususnya dalam penyediaan likuiditas dolar di pasar,” tuturnya. 

Sementara dari sisi fiskal, kebutuhan pendanaan untuk program-program strategis seperti MBG dan subsidi energi tetap tinggi. Menurutnya, menjadi hal krusial untuk meninjau kembali prioritas belanja negara agar ketahanan fiskal tetap terjaga.

Selain itu, optimalisasi pengelolaan dana melalui entitas seperti Danantara juga turut menjadi perhatian. Efektivitas alokasi dan kualitas investasi perlu dijaga agar dapat memberikan dampak nyata terhadap perekonomian, bukan sekadar akumulasi dana tanpa arah yang jelas.

“Kondisi semakin kompleks dengan adanya tekanan eksternal dan persepsi risiko, termasuk isu MSCI [Morgan Stanley Capital International], sovereign downgrade, serta konfirmasi outlook negatif sektor perbankan baru-baru ini oleh Fitch Ratings,” tutur dia.

“Hal ini tentu berdampak pada daya tarik pasar obligasi negara di tengah kebutuhan pembiayaan yang meningkat.”

Pergerakan rupiah siang ini kembali melemah dan tergerus 0,6% ke posisi Rp17.325/US$ seiring dengan aksi jual yang terjadi di pasar surat utang domestik dan tekanan eksternal yang belum mereda. 

Kenaikan harga minyak masih menjadi sentimen yang menekan rupiah bersama mata uang kawasan, lantaran adanya rencana blokade jangka panjang oleh Presiden AS Donald Trump. 

Rupiah terdepresiasi bersama peso Filipina, won Korea Selatan, rupee India, baht Thailand, dolar Taiwan dan Hong Kong, serta yen Jepang yang lebih terbatas. Sebaliknya ringgit Malaysia, yuan offshore dan dolar Singapura masih bergerak di zona hijau. 

(mfd/ell)

No more pages