Sebagai solusi, pemerintah akan memperbaiki perlintasan sebidang itu setidaknya melalui dua hal, yakni membangun pos jaga atau jembatan layang (flyover). Pemerintah menghitung kebutuhan anggaran untuk perbaikan tersebut mencapai hampir Rp4 triliun.
“Kita perhitungkan sekitar hampir Rp4 triliun ya demi keselamatan dan demi karena kita sangat penting kita sangat perlu kereta api kita akan keluarkan itu sekarang saatnya sudah berapa puluh tahun tidak dilakukan kita sekarang lakukan,” ujarnya.
Hingga berita ditulis, KAI menyebut terdapat 14 penumpang yang meninggal dunia, 84 penumpang mengalami luka-luka, dan tiga penumpang masih terjebak di badan kereta. Beberapa penumpang yang mengalami luka ringan sudah kembali ke rumah masing-masing.
Penanganan korban dilakukan di beberapa fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Sekadar catatan, saat ini pemerintah tengah melakukan efisiensi anggaran bagi kementerian/lembaga (K/L) imbas eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada perekonomian Indonesia.
APBN bahkan disebut-sebut tengah tertekan lantaran harga minyak mentah dunia yang terus melonjak. Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan harga subsidi bahan bakar minyak (BBM) agar tidak naik hingga akhir tahun.
(mfd/ell)




























