"Jadi perkeretaapian, [mesin] kereta kan pelan ya, kategorinya kan low speed engine, kalau otomotif ini speed engine-nya paling tinggi. Nah, itu bisa dipastikan pasti akan jalan untuk kereta. Nanti kita lihat di perkeretaapian ini filternya seperti apa," ucap dia.
Meskipun terdapat uji coba yang dilakukan dalam enam bulan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan mandatori implementasi B50 bakal dilakukan awal Juli 2026.
Bahlil menyatakan program pencampuran bahan bakar nabati (BBN) dengan bahan bakar minyak (BBM) tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil.
"Sudah hampir 6 bulan kita melakukan uji pakai [B50] untuk di beberapa peralatan seperti alat berat, kapal, truk, dan sekarang masih bergulir terus [pengujiannya]. Namun, sebentar lagi akan final dan sampai dengan hari ini uji cobanya alhamdulillah cukup baik, dan 1 Juli mulai diterapkan implementasi B50. Inilah kenapa pemerintah dari awal itu mencari energi alternatif," kata Bahlil dalam keterangan tertulis yang sama.
Sebelumnya, uji jalan atau road test penggunaan biodiesel B50 pada sektor otomotif untuk kendaraan di atas 3,5 ton telah selesai dan mencapai target jarak tempuh 40.000 kilometer (km).
Sementara itu, uji terhadap kendaraan di bawah 3,5 ton baru mencapai 40.000 km dari target 50.000 km.
Eniya dalam kesempatan berbeda mengklaim hasil pengujian performa dan konsumsi bahan bakar menunjukkan kinerja kendaraan tetap stabil.
Konsumsi bahan bakar juga diklaim dalam rentang standar pabrikan dan tidak menunjukkan penurunan performa yang signifikan.
Untuk kendaraan di bawah 3,5 ton yang masih menjalankan uji jalan, Eniya mengklaim kondisi mesin dan filter bahan bakar masih dalam kategori baik, serta masih berada dalam batas standar yang direkomendasikan pabrikan.
"Mei nanti semua [kendaraan] sektor otomotif untuk di bawah 3,5 ton mencapai target 50.000 km. Setelah selesai 50.000 km, nanti ada pengecekan semua engine. Untuk kendaraan di atas 3,5 ton sudah selesai memenuhi target jarak tempuh 40.000 km," kata Eniya melalui keterangan tertulis, Selasa (22/4/2026).
Di sisi lain, dia mengklaim hasil pengujian menunjukan kualitas bahan bakar B100 untuk campuran B50 telah memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan, khususnya pada parameter yang dilakukan perbaikan yaitu kadar air, monogliserida dan kestabilan oksidasi sesuai rekomendasi Komite Teknis Bioenergi.
Sejumlah spesifikasi tersebut, antara lain; kadar air B50 menjadi maksimum sebesar 300 parts per million (ppm) dari 320 ppm untuk B40, monogliserida menjadi maksimum 0,47% massa dari 0,5% massa untuk B40, dan kestabilan oksidasi menjadi minimal 900 menit dari minimal 720 menit untuk B40.
Dia menyampaikan bahwa uji jalan B50 dimulai dari uji laboratorium pada awal 2025, kemudian dilanjutkan dengan penggunaan B50 pada mesin diesel yang dimulai serentak sejak Desember 2025.
Uji penggunaan B50 tersebut dilakukan di sejumlah sektor, yaitu otomotif, angkutan laut, mesin dan alat pertanian, mesin dan alat berat tambang, kereta api dan pembangkit.
"Awal 2025 kita sudah melakukan uji teknis laboratorium dan sudah selesai di pertengahan tahun lalu. Lalu kita memang sudah melakukan kick off dan serentak uji di 6 sektor. Jadi otomotif, tambang, alat pertanian, kelautan, lalu pembangkit, satu lagi kereta. Nah itu serentak dilakukan mulai 9 Desember 2025," ujar Eniya.
(azr/wdh)





























