"Kita memiliki rangka kebijakan yang kuat dan itulah yang harus kita tingkatkan termasuk juga kebijakan hilirisasi dan industrialisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi," jelas Perry.
Sebab kata dia, dunia saat ini tidak hanya menghadapi perlambatan ekonomi, tetapi juga ketidakpastian yang berkepanjangan.
Lewat tekanan yang datang dari berbagai arah, mulai dari suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS), aliran modal keluar, hingga eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak.
Kondisi ini dinilainya berpotensi menekan ketahanan eksternal Indonesia.
"Oleh karena itu kita terus perlu memperkuat sinergi mendorong perekonomian Indonesia dengan berbasis kekuatan domestik, permintaan domestik," pungkasnya.
Pertahankan BI-Rate
Untuk diketahui, BI kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 21-22 April 2026.
Tidak hanya suku bunga acuan atau BI rate, suku bunga deposit facility juga dipertahankan di level 3,75%, dan suku bunga lending facility dipertahankan pada level 5,5%.
Perry menyebut keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.
"Kedepan Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5 plus minus 1%," kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (22/4/2026).
(prc/ell)




























