Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sejatinya juga bersiap untuk bertolak ke Pakistan. Namun lawatan Araghchi disebut bukan untuk berdialog dengan perwakilan dari Washington, seperti dikabarkan kantor berita Tasnim.
Perdamaian yang masih samar-samar ini membuat harga energi masih tinggi. Kemarin, harga minyak jenis brent naik 0,25% ke US$ 105,33/barel, tertinggi sejak 7 April.
Apabila perang di Iran masih terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap tidak bisa dilalui, maka dunia terancam mengalami lonjakan harga energi. Alhasil, bank sentral di berbagai negara bakal kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana prediksi gerak harga emas untuk minggu depan? Apakah bisa bangkit berdiri atau malah turun lagi?
Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas masih menghuni zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 55.
RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun RSI emas belum jauh dari 50 sehingga bisa dikatakan cenderung netral.
Sedangkan indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh 15. Di bawah 20, yang berarti tergolong jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan pekan depan, harga emas sebenarnya berpeluang naik. Target resisten terdekat adalah US$ 4.749/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 20.
Cermati pivot point di US$ 4.788/troy ons, Sebab jika tertembus, maka harga emas berpeluang menguji US$ 4.852/troy ons.
Target paling optimistis atau resisten terjauh ada di US$ 5.199/troy ons.
Namun andai harga emas malah turun lagi, maka US$ 4.694/troy ons sepertinya bisa menjadi target support terdekat. Dari sini, harga emas berisiko mengetes rentang US$ 4.686-4.542/troy ons.
Target paling pesimistis atau support terjauh adalah US$ 4.441/troy ons.
(aji)

























