Logo Bloomberg Technoz

Masuknya aliran modal ke instrumen SRBI lantaran BI melakukan penyesuaian suku bunga agar SRBI menjadi instrumen yang mempunyai daya tarik bagi foreign inflow. 

Imbal hasil SRBI tercatat terus menanjak ke hampir 6% dan mencatatkan posisi tertinggi sejak Juni 2025, berdasarkan data dari BI yang dihimpun Bloomberg per 24 April 2026.

Suku bunga SRBI tenor 12 bulan. (Bloomberg)

Investor asing juga tercatat terus meningkatkan kepemilikan pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejak akhir 2025. Pada November 2025, posisi mereka masih sebesar Rp86,66 triliun, kemudian melonjak menjadi Rp114,05 triliun pada Desember dan kembali naik ke Rp121,9 triliun pada Januari 2026.

Meski sempat mengalami koreksi pada Maret 2026 sebesar 4,56% menjadi Rp143,91 triliun dari Rp150,79 triliun pada Februari, tren secara keseluruhan tetap menunjukkan akumulasi yang kuat.

Dengan demikian, sejak November 2025 hingga Maret 2026, kepemilikan investor asing di SRBI telah meningkat sebesar Rp57,12 triliun atau sekitar 65,82%. Selain investor asing, pelaku pasar domestik, termasuk pemilik modal dan pengelola dana, juga terlihat aktif memburu instrumen SRBI.

Sebagai catatan, pada awal triwulan II 2026 (hingga 20 April 2026), aliran modal kembali mencatat net inflows sebesar US$1,9 miliar. Di sisi lain, Bank Indonesia juga membeli SBN mencapai Rp111,54 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp56,53 triliun.

Hasil Lelang Terbaru

Pada lelang hari ini, BI berhasil menyerap dana hingga Rp45,5 triliun, dengan minat investor yang terkonsentrasi pada tenor 12 bulan. Dari total penawaran Rp42,43 triliun di tenor tersebut, BI memenangkan Rp40,2 triliun.

Investor agaknya cenderung mengunci dana pada tenor lebih panjang, 12 bulan dengan imbal hasil yang lebih tinggi yaitu 5,91%. Sedangkan, tenor 9 bulan justru sepi, dengan penawaran hanya Rp1,67 triliun dan BI memenangkan tenor ini hanya Rp1,2 triliun. 

Sedangkan di tenor 6 bulan, penawaran yang masuk Rp4,62 triliun dan BI memenangkan sebesar Rp4,1 triliun. 

Di saat BI berhasil menyerap likuiditas dalam jumlah besar, pertumbuhan kredit di sektor riil justru melambat. 

“Penurunan SBDK mengindikasikan kondisi pendanaan bank yang memadai sehingga dapat mendorong suku bunga kredit semakin kompetitif, meskipun permintaan kredit terindikasi masih relatif terbatas yang membatasi pertumbuhan kredit,” sebut laporan BI. 

Hal ini mengindikasikan bahwa dana yang beredar di sistem keuangan saat ini lebih banyak berputar di instrumen keuangan seperti SRBI, ketimbang mengalir ke sektor riil.

(dsp/aji)

No more pages