Walau regulasi Jepang saat ini sudah mendorong operator seluler dan penyedia internet mengaktifkan penyaringan bagi anak di bawah umur, hal itu tidak diwajibkan jika orang tua memilih untuk tidak mengikuti langkah-langkah tersebut.
Beragam langkah Jepang ini akan mengikuti cara yang diambil di banyak negara lain untuk melindungi remaja di dunia maya. Australia pada Desember lalu melarang 4,7 juta akun yang dimiliki oleh pengguna muda, sementara negara-negara termasuk Inggris, Yunani, dan Indonesia sedang mengupayakan langkah-langkah serupa.
Di Amerika Serikat dalam sebuah pengadilan di California pada Maret lalu memerintahkan Meta Platforms Inc. dan Alphabet Inc. untuk membayar total US$6 juta usai memutus bahwa platform mereka sengaja dirancang untuk membuat ketagihan, sebuah temuan yang dianggap sebagai langkah menuju pengawasan yang lebih ketat.
Tekanan terhadap perusahaan media sosial semakin meningkat terkait fitur-fitur desain yang membuat ketagihan dan konten berbahaya, yang menurut para kritikus dapat merusak perkembangan kognitif dan kesehatan mental anak-anak.
Di Jepang, remaja menghabiskan hampir 70 menit sehari di media sosial pada hari kerja, hampir dua kali lipat dari rata-rata nasional secara keseluruhan, terungkap dalam hasil survei kementerian.
Beberapa psikolog juga mengaitkan penggunaan media sosial dengan risiko kesehatan mental, termasuk perundungan siber, dismorfia tubuh, gangguan makan, dan bunuh diri.
Lebih dari 27.000 kasus pencemaran nama baik, pelecehan, atau pengalaman tidak menyenangkan lainnya melalui komputer dan ponsel dilaporkan pada tahun 2024, yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menurut laporan Kementerian Bidang Pendidikan.
Namun, penerapan larangan di Australia menunjukkan hasil yang beragam. Beberapa orang tua melaporkan perbaikan perilaku, sementara yang lain mengatakan anak-anak mengelak dari pembatasan atau beralih ke aplikasi lain. Anak-anak masih dapat melihat konten di platform yang tidak mengharuskan pengguna untuk login, meskipun mereka tidak dapat memposting, berkomentar, atau mengirim pesan.
Berdasarkan tantangan yang terlihat di Australia, diskusi pada hari Rabu meluas ke masalah-masalah praktis. Beberapa ahli mengusulkan penggunaan data pelanggan operator seluler memverifikasi usia pengguna, sementara yang lain mendesak untuk berhati-hati terhadap risiko privasi. Para peserta juga mempertanyakan seberapa efektif filter tersebut jika pengguna dapat menghindari pemeriksaan dengan memasukkan usia palsu.
Usulan panel pemerintah Jepang juga mengusulkan sistem peringkat untuk mengevaluasi platform berdasarkan langkah-langkah pengamanan seperti penyaringan konten, batasan waktu, dan pembatasan iklan, sehingga pengguna dapat membandingkan risiko dengan lebih mudah.
LINE dan YouTube tetap menjadi platform yang paling banyak digunakan di kalangan remaja di Jepang, menurut laporan kementerian pada tahun 2024. Instagram mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir, mencapai 75% remaja pada tahun 2024, naik dari 25% sepuluh tahun sebelumnya.
(bbn)






























