Logo Bloomberg Technoz

Instruksi ini juga menyisakan pertanyaan yang belum terjawab mengenai sejauh mana aktivitas ranjau Iran, detail yang enggan dirinci oleh Komando Pusat AS (US Central Command). Jumlah pasti armada kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga masih belum jelas, meski estimasi Badan Intelijen Pertahanan tahun 2019 menyebutkan ada ratusan kapal serupa di Teluk Persia.

Steve Wills, analis dari Center for Maritime Strategy di Navy League, berpendapat bahwa serangan AS mungkin telah merusak sistem komando Iran "terlalu parah untuk memungkinkan penggelaran ranjau secara komprehensif."

Konflik yang telah berlangsung hampir delapan minggu ini terjebak dalam kebuntuan, di mana AS menolak mencabut blokade sebelum ada kesepakatan damai, sementara Iran menegaskan tidak akan ada kesepakatan sebelum blokade dicabut.

Jika perintah serang ini dijalankan, hal tersebut menandakan evolusi operasi tempur yang dapat membahayakan gencatan senjata yang telah berjalan lebih dari dua minggu. Hingga saat ini, AS lebih mengandalkan serangan udara untuk meminimalisir risiko bagi pasukannya. Aksi kejar-kejaran di laut justru berisiko membuat kapal-kapal AS terjebak dalam baku tembak jarak dekat.

"Ini adalah titik posisi tawar yang dimiliki Iran," ujar purnawirawan Laksamana William McRaven, mantan Komandan Operasi Khusus AS, pada Rabu kepada CNN.

"Jangan salah, mereka masih bisa mengendalikan Selat Hormuz," lanjut McRaven. Kapal cepat bersenjata tersebut "menempatkan kapal-kapal kita dalam risiko, baik melalui drone maupun rudal balistik jarak pendek."

James Russell, mantan pejabat kebijakan Timur Tengah di Pentagon, menyamakan risiko kapal kecil ini dengan tantangan yang dihadapi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada Perang Dunia II saat menghadapi kapal torpedo patroli AS.

"Ketika Anda menggabungkan platform ini dengan sistem rudal berbasis darat yang kuat, Anda memiliki sistem anti-akses (A2/AD) yang komprehensif untuk menghentikan Angkatan Laut AS yang mencoba merangsek masuk ke Selat Hormuz," jelas Russell.

Ancaman ini sebenarnya sudah diantisipasi sejak lama. Pada 2015, kapal Littoral Combat Ship milik AS kesulitan dalam latihan yang menguji kemampuan menghalau serangan kawanan kapal seperti milik Iran. Pada 2020, pesawat tempur AC-130 dan helikopter AH-64 juga berlatih di kawasan Teluk untuk menyerang target kapal kecil.

Kapal induk USS Gerald R. Ford yang kini berada di Laut Merah juga telah diuji pada 2022 dalam skenario pertahanan diri terhadap kendaraan udara tanpa awak dan target permukaan berkecepatan tinggi (kapal kecil), menurut laporan terbaru kantor pengujian. Namun, hasil pengujian tersebut masih dirahasiakan.

(bbn)

No more pages