Sebelumnya, Perry mengatakan bahwa Bank Sentral akan melakukan penguatan bauran kebijakan kami, baik di kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.
Kebijakan makroprudensial tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara kebijakan moneter lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi Indonesia terhadap dampak global.
“Dari sisi kebijakan moneter tadi kami sampaikan, kebijakan moneter mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, yaitu dengan meningkatkan intensitas intervensi dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, baik intervensi di offshore NDF maupun domestic spot maupun di NDF,” kata Perry.
Perry juga mengatakan bahwa Bank Indonesia terus melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan mempertimbangkan cadangan devisa sebesar US$ 148,2 miliar yang diklaim masih lebih dari cukup untuk memastikan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Selain itu, Bank Indonesia juga terus mendorong pertumbuhan uang primer M0 di atas 10 -12% untuk memastikan kecukupan likuditas di pasar uang dan perbankan bagi ekonomi, sejalan dengan kebijakan moneter, ekspansi likuiditas.
Sebagai informasi, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (23/4/2026), setelah kemarin ditutup hampir menyentuh Rp17.200/US$.
Mengacu data realtime Bloomberg, rupiah spot pagi ini menyusut banyak 0,32% dan menyentuh Rp17.230/US$. Tak lama berselang, rupiah kembali jeblok 0,44% ke Rp17.251/US$, posisi terlemah sepanjang sejarah Indonesia.
Padahal indeks dolar AS relatif stabil bertahan di level 98,58 pada 08:50 WIB. Namun begitu, harga minyak mentah Brent memang kembali melambung di US$102,7 per barel dan WTI di kisaran US$97 per barel.
(ell)



























