Logo Bloomberg Technoz

Perang yang berawal pada akhir Februari ini sepertinya masih jauh dari kata reda dan berpotensi menekan pasar energi. Dengan hampir tertutupnya Selat Hormuz, menyebabkan penurunan tajam arus pasokan dari produsen di Teluk Persia. 

"Ketegangan tetap tinggi, selama AS dan Iran masih berada dalam kebuntuan sampai salah satu pihak mengalah. Semakin lama tidak ada aliran minyak [yang dapat] melewati selat tersebut, semakin tinggi pergerakan harganya," kata Kissler, wakil presiden di BOK Financial Securities, seperti dikutip Bloomberg News

Kondisi ini membuat mata uang di pasar Asia kembali keok, ada perlawanan dari yen Jepang, yuan offshore, dolar Singapura dan Hong Kong, meski perubahannya tipis saja hanya 0,01% hingga 0,05%. 

Sementara mata uang lainnya seperti baht Thailand dan ringgit Malaysia melemah 0,22% dan 0,14%.  

Dari dalam negeri upaya meredam gejolak nilai tukar sepertinya belum cukup bertaji. Di tengah badai tekanan eksternal ini, Bank Indonesia (BI) menyebbut akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter. 

"Terkait dengan penguatan untuk operasi moneter kami melalui intervensi penguatan khususnya untuk yang NDF di offshore market, akan ada pengecualian bagi bank khususnya untuk dealer utama, sehingga mereka bisa menjual NDF secara langsung," ujar Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), kemarin.

Selain itu, BI juga sepertinya semakin mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di tengah ketidakpastian geopolitik, sebagai alat untuk menyerap likuiditas rupiah sekaligus mendukung stabilisasi nilai tukar.

"Sejak Februari secara bertahap terus melakukan penyesuaian pada suku bunga SRBI sehingga jadi instrumen yang memiliki daya tarik terhadap foreign inflow," kata Destry.

Memang pasar SRBI belakangan ini mendapat animo dari para investor karena tingkat imbal hasil yang tinggi. Melansir data Bloomberg, imbal hasil (yield) SRBI naik mencapai level tertingginya sejak Juli tahun lalu dan menyentuh 5,76% untuk tenor 12 bulan.

Lantas, bagaimana pergerakan rupiah hari ini? 

Analisis Teknikal Rupiah Kamis 23 April 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, rupiah berisiko melanjutkan tren pelemahan hari ini. Adapun rupiah berpotensi melemah menembus support Rp17.200/US$. Support selanjutnya bisa menuju Rp17.250/US$ usai menembus trendline sebelumnya.

Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp17.400/US$ sebagai level paling pesimistis pelemahan rupiah dalam time frame harian.

Sebaliknya, nilai rupiah memiliki level resistance terdekat di Rp17.120/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi resistance selanjutnya di Rp17.000/US$ sebagai resistance potensial.

(riset/aji)

No more pages