Adapun, beban usaha GIAA tercatat sebesar US$713,22 juta atau susut 0,72% dari beban usaha tahun sebelumnya sebesar US$718,36 juta.
Sementara itu beban usaha lainnya mempertebal posisi rugi GIAA, dengan porsi beban keuangan mencapai US$104 juta.
Kendati demikian, beban itu relatif dapat dijaga seiring dengan manuver manajemen untuk memangkas jumlah karyawan.
Sampai periode 31 Maret 2026, jumlah karyawan GIAA turun menjadi 10.724 orang dari sebelumnya 10.852 orang sepanjang 2025.
Di sisi lain, beban bahan bakar relatif susut ke level US$224,74 juta dari tahun sebelumnya sebesar US$233,42 juta.
Kenaikan harga avtur belakangan imbas konflik di Timur Tengah belum tercermin pada pembukuan periode kuartal I-2026.
Sementara itu, GIAA mencatat total liabilitas mencapai US$7,43 miliar, berasal dari liabilitas jangka pendek US$1,54 miliar dan jangka panjang sebesar US$5,89 miliar.
Adapun, total aset GIAA mencapai US$7,5 miliar dan total ekuitas susut ke level US$68,25 juta.
Injeksi Danantara
Sebelumnya, GIAA mendapat suntikan dana Rp23,67 triliun dari BPI Danantara.
Pendanaan dari Danantara diperoleh pada 5 Desember 2025 dalam bentuk capital injection senilai Rp23,67 triliun atau setara US$1,42 miliar.
Dana itu terdiri atas konversi pinjaman pemegang saham senilai Rp6,65 triliun serta penyertaan modal tunai sebesar Rp17 triliun.
Sekitar Rp15 triliun atau 64% suntikan dana dari Danantara dialokasikan untuk penyelesaikan kewajiban Citilink, sementara GIAA memperoleh alokasi Rp8,7 triliun untuk kebutuhan perawatan armada.
Di sisi lain, GIAA mencatat kas dan setara kas sebesar US$943,4 juta pada akhir 2025, meningkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar US$219,1 juta.
“Peningkatan ini turut mencerminkan perbaikan likuiditas perusahaan yang menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas operasional,” kata Direktur Utama GIAA Glenny Kairupan lewat keterangan pers bulan lalu.
Garuda Indonesia menargetkan akan mengoperasikan sebanyak 68 serviceable aircraft pada akhir tahun ini, sedangkan Citilink menargetkan serviceable aircraft sebanyak 50 pesawat.
“Langkah optimalisasi serviceable aircraft yang ada pada 2026 akan diperkuat melalui proyeksi percepatan beberapa inisiatif strategis proses perawatan armada,” kata Glenny.
Inisiatif ini mencakup heavy maintenance airframe check pada armada Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, serta Airbus A330.
Selain itu, Perseroan juga menjalankan overhaul dan shop visit untuk komponen utama seperti engine, Auxiliary Power Unit (APU), dan landing gear guna memastikan performa armada tetap optimal.
---
Catatan redaksi: artikel ini mengalami penyesuaian judul dari sebelumnya GIAA Pangkas 128 Karyawan Awal 2026, Beban Avtur Belum Kelihatan.
(naw)



























