Kontrol atas Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar global, tetap menjadi sengketa, di mana blokade laut AS masih berlaku dan Iran secara efektif menutup selat tersebut bagi semua kapal kecuali pengiriman minyaknya sendiri sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Pernyataan terbaru—yang disampaikan selama panggilan pertama Xi dengan putra mahkota Saudi dalam lebih dari tiga tahun—juga memperkuat pernyataan publik pertama Presiden China mengenai perang Iran, yang disampaikan pekan lalu selama pertemuan dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez.
Pada saat itu, Xi memperingatkan bahwa tatanan internasional "hancur berantakan" dan berjanji akan memainkan peran konstruktif di Timur Tengah.
Memulihkan akses bebas di selat tersebut menjadi prioritas khusus bagi China, importir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia melalui Selat Hormuz. Meski telah melakukan langkah-langkah signifikan dalam beberapa tahun terakhir untuk memperkuat keamanan energi dan melindungi ekonominya dari gejolak global, Beijing masih bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 40% impor minyaknya.
Membuka kembali aliran barang melalui Teluk semakin mendesak bagi negara pengekspor terbesar di dunia, di mana Timur Tengah dan Afrika Utara menyumbang sekitar 7% dari total penjualan luar negeri. Mengingat gangguan perdagangan pada Maret, pengiriman barang China ke wilayah tersebut anjlok 43%.
Iran mengumumkan akan membuka kembali selat tersebut pada Jumat setelah gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah di Lebanon, menyebabkan harga minyak anjlok. Namun, keputusan tersebut segera dibatalkan setelah AS menolak mencabut blokadenya, dan Angkatan Laut AS kemudian menembaki dan menaiki kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman.
Kebebasan lalu lintas kapal melalui titik-titik krusial seperti Selat Hormuz dan Selat Malaka dilindungi berdasarkan prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
Xi juga mengatakan kepada Pangeran Mohammed bahwa China mendukung negara-negara Timur Tengah untuk “mengambil kendali atas masa depan dan nasib mereka sendiri”—pesan yang pada dasarnya merupakan seruan kepada negara-negara di kawasan tersebut untuk mempertimbangkan kembali ketergantungan mereka pada AS dalam hal keamanan.
Pernyataan tersebut menggunakan bahasa yang mirip dengan yang baru-baru ini digunakan oleh Presiden AS Donald Trump. Pada awal perang, ia mengatakan kepada rakyat Iran bahwa “sekaranglah waktunya untuk mengambil kendali atas nasib kalian.”
(bbn)




























