Bahlil mengaku belum dapat mengumumkan volume pembelian komoditas migas dari Rusia tersebut, sebab terdapat kesepakatan untuk tak membuka ke publik ihwal volume dan harga impor.
Harga Kompetitif
Namun, dia tetap memastikan tetap mengusahakan untuk mendapatkan harga komoditas migas dari Rusia yang paling kompetitif. Dia bahkan membidik harga impor yang didapatkan Indonesia agar dapat berada di bawah harga pasar.
“Harga itu tetap kita akan mencari harga yang terbaik. [Hal] yang jelas kita akan mencoba untuk tidak boleh lebih daripada harga pasar. Harga di bawah pasar itu jauh lebih baik, tetapi minimal sama dengan harga pasar,” ujar Bahlil.
Dalam kunjungannya ke Rusia, Bahlil sempat bertemu Tsivilyov dan sejumlah perusahaan energi Rusia seperti Rosneft, Ruschem, Zarubezhneft, dan Lukoil.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Tsivilyov menyatakan kesiapan membantu Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi.
“Sebagai mitra strategis, kami siap berkolaborasi terutama dalam penyediaan minyak dan gas, penyimpanan, maupun kelistrikan dalam hal ini pembangkit listrik tenaga nuklir”, ujarnya.
Tsivilyov sendiri sebelumnya juga menyatakan Indonesia tengah menjajaki peluang pembelian produk minyak dari Rusia dalam kontrak jangka panjang, menyatakan proses negosiasi tengah berlangsung.
Dia turut hadir dalam pertemuan kenegaraan antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kremlin, Senin (13/4/2026).
Sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Sputnik dan Interfax, Tsivilyov menyatakan Rusia telah menerima permintaan dari Indonesia untuk memasok minyak.
“Saat ini kami secara serius tengah mempertimbangkan kontrak jangka panjang dengan harga yang saling menguntungkan,” ujar Tsivilyov dalam sebuah wawancara dengan Channel One, sebagaimana dilaporkan Sputnik dan Interfax, Selasa (14/4/2026).
Sebelumnya, Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman tengah menyiapkan teknis impor minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), dan LPG dari Rusia.
Laode menyatakan tim Ditjen Migas masih berada di Rusia untuk menyiapkan teknis kerja sama pengadaan komoditas migas tersebut.
Akan tetapi, dia menegaskan kedua negara belum memutuskan skema pengadaan dan volume impor yang bakal dilakukan. Selain itu, Laode menegaskan kerja sama bakal dilakukan untuk jangka waktu panjang.
“Jadi sekarang tim di Rusia pun ada tim yang sedang menyiapkan teknisnya. Jadi skemanya seperti apa. Kita belum sampai ke volume. Namun, paling tidak Rusia mau kerja sama crude, BBM, LPG itu sudah bagus,” kata Laode kepada awak media di Kompleks DPR RI, Rabu (15/4/2026).
Di sisi lain, Laode mengungkapkan Indonesia dan Rusia tengah menjajaki kerja sama pembangunan fasilitas penyimpanan atau storage minyak di Tanah Air.
Meskipun belum membeberkan lokasi pembangunan dan kapasitas penyimpanan, Laode menegaskan tangki penyimpanan tersebut bakal terpisah dari rencana pembangunan Grass Root Refinery (GRR) Tuban.
“Nah itu saya belum dapat update ya [soal pembangunan Kilang Tuban]. Soalnya saya hanya memperhatikan masalah crude sama LPG saja,” ujar Laode.
(azr/wdh)





























