Logo Bloomberg Technoz

Sektor pertanian menjadi penerima KUR terbanyak yaitu Rp 80,09 triliun atau 44,97% dari total penyaluran KUR oleh BBRI.

Dengan fokus ke UMKM, kinerja BBRI secara korporasi juga terjaga. Risiko BBRI jauh lebih aman karena tersebar di jutaan nasabah mikro dengan plafon kecil. Jika satu atau dua UMKM jatuh, maka tidak akan mengguncang BBRI.

Fundamental BBRI tetap solid. Pada 2025, rasio kecukupan modal (CAR) BBRI ada di 21,06%. Angka ini jauh di atas ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang sebesar 8%.

Dari sisi aset, BBRI terus mencatat pertumbuhan. Pada 2025, aset perseroan tumbuh 7,18% secara tahunan menjadi Rp 2.135 triliun.

Ini mencerminkan BBRI memiliki pondasi yang kokoh. CAR dan aset yang tumbuh menjadi modal kuat bagi BBRI untuk terus menyalurkan kredit, terutama bagi UMKM.

Pelaku pasar pun memberi apresiasi. Berdasarkan riset Sucor Sekuritas, laba bersih BBRI diperkirakan punya momentum untuk terus membaik.

“Proyeksi pertumbuhan kredit yang membaik akan menciptakan laba yang lebih kuat. Likuiditas yang memadai dan penurunan biaya kredit akan membuat biaya dana lebih terkendali. Utilisasi aset yang membaik juga bisa memberi ruang bagi perseroan untuk melakukan ekspansi kredit,” papar riset Sucor Sekuritas.

'Jamu Manis' Dividen

Bagi investor, BBRI juga memberikan ‘jamu manis’ berupa dividen bagi pemegang saham. Untuk tahun buku 2025, BBRI menyalurkan dividen dengan nilai total Rp 52,1 triliun atau setara dengan Rp 346/saham.

Sejak dividen diumumkan pada 13 April, harga saham BBRI menguat. Dalam tiga hari terakhir, harga saham BBRI naik 1,19%.

Dividen akan menjadi insentif bagi investor untuk mengoleksi saham BBRI. Saat permintaan naik, harga saham pun ikut terungkit.

Menurut Sucor Sekuritas, valuasi saham BBRI juga menarik. Dividen yang tinggi menjadi salah satu pendorongnya, karena menciptakan nilai lebih bagi investor.

“Dividen menawarkan pemasukan dalam iklim suku bunga rendah. Ini menyediakan titik masuk yang menarik,” lanjut riset tersebut.

(red)

No more pages