Bagi Xiao, yang memfasilitasi penempatan modal ke perusahaan teknologi swasta di seluruh AS dan China, minat untuk berinvestasi tetap kuat meskipun sifat transaksi ini berisiko tinggi.
Meskipun potensi keuntungannya sangat besar, jalur untuk masuk ke startup AI kian rumit dengan adanya struktur yang tidak transparan seperti entitas khusus (special purpose vehicles/SPV) dan biaya manajemen yang tinggi.
Terlepas dari hambatan-hambatan ini, modal yang dialokasikan ke sektor AI swasta menunjukkan bahwa bagi para orang kaya di Asia, risiko ketinggalan gelombang teknologi berikutnya jauh lebih besar daripada risiko membayar terlalu mahal.
Hal tersebut semakin didorong oleh family office skala kecil yang mencari “aset prestisius” di perusahaan unicorn swasta paling terkenal di dunia. “Telah terjadi peningkatan partisipasi dari family office yang lebih kecil,” kata Nick Wong, CEO Turoid, platform wealth management berbasis AI.
Wong diketahui telah memfasilitasi investasi teknologi swasta senilai lebih dari US$1 miliar selama lima tahun terakhir, memberikan klien akses ke nama-nama ternama seperti SpaceX dan Anthropic melalui kemitraan dengan firma modal ventura dan mitra umum.
Menurut Xiao dari Annum Capital, para investor ini biasanya mengalokasikan antara US$5 juta hingga US$10 juta dari portofolio dengan valuasi US$100–US$200 juta untuk penempatan swasta strategis.
Namun, terdapat hambatan struktural yang signifikan, termasuk kurangnya informasi keuangan, minimnya likuiditas, dan risiko yang disebut “down rounds,” yaitu ketika sebuah startup menggalang modal baru dengan valuasi yang lebih rendah daripada putaran sebelumnya.
“Ini adalah pasar yang sangat dikuasai perantara dan tidak transparan,” kata Xiao. “Proses uji tuntas sangat, sangat penting.”
Tahun lalu, lebih dari 90% investasi swasta di bidang AI dari kalangan orang kaya Asia mengalir ke perusahaan-perusahaan AS, menurut PitchBook. Namun, besarnya valuasi perusahaan-perusahaan terkemuka di industri ini, seperti OpenAI, menciptakan hambatan masuk bahkan bagi family office yang paling kaya sekalipun.
Menjadi jauh lebih sulit
Bagi sebagian orang, rasio atas risiko hasil atas investasi di AS tidak lagi sepadan. “Valuasi perusahaan AI terkenal di AS sangat mahal, sehingga jauh lebih sulit untuk mengambil langkah itu dibandingkan hanya setahun yang lalu,” kata Kenny Ho, managing partner & faounder Carret Private Investments.
Perusahaan Ho, yang dijalankan oleh mantan bankir swasta, kini menargetkan pendanaan pra-seed untuk startup AI yang lebih kecil di Asia. Target dari investasi ini adalah pengembalian 10 hingga 20 kali lipat dari modal awal, sebuah angka yang secara statistik semakin sulit dicapai seiring dengan meningkatnya valuasi di AS.
Perusahaan AI Asia yang telah mendapat investasi dari para individu kaya antara lain DeepRoute.Ai dari China dan Advance.AI dari Singapura, menurut Pitchbook.
Sebuah family office yang berbasis di Hong Kong mengatakan bahwa mereka sedikit lebih mengalihkan perhatian ke China karena kemampuan teknologi perusahaan-perusahaan di sana tinggi dan mereka sangat kompetitif, namun alokasi dana untuk AS masih akan jauh lebih besar.
“AI AS terus menarik sebagian besar modal, namun valuasi yang tinggi mendorong beberapa kantor keluarga Asia untuk menjajaki peluang AI dengan harga yang lebih terjangkau di kawasan mereka sendiri,” kata Bhavik Vashi, managing director Carta untuk Asia Pasifik & Timur Tenga, platform yang melacak kepemilikan saham di startup.
(bbn)































