Logo Bloomberg Technoz

Pihak berwenang Rusia terus kampanye tanpa henti terhadap platform media sosial termasuk YouTube, Facebook, WhatsApp, dan Instagram sebagai bagian dari langkah menekan perbedaan pendapat pasca Putin memerintahkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022.

Baru-baru ini, mereka mendorong warga Rusia untuk beralih ke “super-app” bernama Max, yang terinspirasi dari WeChat China, termasuk dengan membatasi akses ke Telegram secara drastis.

Pemutusan jaringan internet seluler yang meluas selama berminggu-minggu di Moskow, kota dengan populasi lebih dari 13 juta orang, juga memicu protes pada bulan Maret karena pihak berwenang seolah menguji kontrol lebih lanjut terhadap infrastruktur daring negara tersebut. Kremlin membenarkan gangguan tersebut sebagai langkah keamanan. 

Belum jelas sejauh mana pihak berwenang pada akhirnya berniat membatasi akses internet di Rusia. Namun, ketidakpuasan atas gangguan sehari-hari yang dialami masyarakat yang kini sangat bergantung pada layanan digita,  mungkin turut berkontribusi pada penurunan tingkat popularitas Putin. Hal ini seiring dengan semakin lelahnya warga Rusia menghadapi gangguan yang terkait dengan perang. 

Kepercayaan terhadap Putin turun lebih dari delapan poin persentase sejak Januari menjadi 67,8%, menurut lembaga survei milik negara VTsIOM. Pada awal Maret, angka tersebut mencapai level terendah sejak perang dimulai. 

Hal ini menjadi masalah bagi Kremlin yang berusaha mengelola suasana hati publik menjelang pemilihan parlemen di Rusia yang dijadwalkan pada September. Dan hal ini melemahkan narasi resmi bahwa publik tetap bersatu di belakang Putin dalam konflik dengan Ukraina yang kini memasuki tahun kelima.

“Penolakan ini paling terlihat di kalangan penduduk kota-kota besar yang relatif aktif dan makmur, yang sudah tidak puas dengan pemerintah,” kata Denis Volkov, kepala lembaga survei lain yang berbasis di Moskow, Levada, yang jajak pendapatnya sendiri sejauh ini belum menunjukkan penurunan tajam dalam peringkat Putin. “Hal ini berdampak lebih kecil terhadap suasana hati pemilih setia Putin yang menonton televisi.” 

Pendiri Telegram yang juga seorang miliarder, Pavel Durov, yang sedang diselidiki di Rusia akibat kritiknya terhadap tindakan keras terhadap media sosial, mendorong apa yang ia sebut sebagai “Digital Resistance” di dalam negeri.

“Teruslah berjuang,” kata Durov di Telegram, sambil menyarankan para pengguna untuk menyimpan persediaan VPN dan memperbarui aplikasi mereka. “Dari pihak kami, kami akan terus meningkatkan teknologi anti-sensor terdesentralisasi Telegram.”

(bbn)

No more pages