Logo Bloomberg Technoz

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan pergerakan kurs beberapa hari terakhir tidak terlepas dari konflik di Timur Tengah yang membuat nilai tukar dolar terhadap berbagai mata uang dunia menguat, tak terkecuali rupiah.

Konflik tersebut memunculkan sentimen risk off atau menghindari faktor risiko di tengah investor global, sehingga mereka melepas investasinya di instrumen portofolio negara-negara berkembang, termasuk Indonesia untuk membeli surat berharga AS beserta dolar. Walhasil, indeks dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia (DXY) menguat.

"Terjadi risk off. Artinya investor menjauhi risiko sehingga ada safe haven activity. Mau enggak mau flow ke advance economies termasuk ke AS. DXY mengalami peningkatan," kata Destry dalam acara yang sama. 

Rupiah spot pagi ini, Selasa (14/4/2026), melemah 0,13% ke Rp17.125/US$. Mata uang Nusantara terdepresiasi bersama dengan won Korea Selatan, dolar Singapura, dan Hong Kong juga melemah. 

Sebaliknya, ringgit Malaysia, peso Filipina, dolar Taiwan, yuan China, dan yen Jepang kembali menguat menyambut harga minyak mentah yang tergelincir turun ke US$97,98 per barel.

Mata uang di kawasan mendapat angin segar di tengah perang dengan adanya gelombang optimisme terhadap prospek mata uang China untuk menyaingi dolar AS. Yuan tercatat mengalami peningkatan permintaan setelah Iran mulai menerima pembayaran dalam mata uang tersebut. 

(mfd/ell)

No more pages