Logo Bloomberg Technoz

Roberth menjelaskan bahwa Program Belida Musi Lestari dijalankan melalui pendekatan holistik yang dikenal sebagai model ekosistem perikanan berdikari. Model ini mencakup lima pilar utama yang saling melengkapi dan terintegrasi satu sama lain untuk menciptakan kemandirian masyarakat dari hulu hingga hilir.

Pilar pertama adalah berdikari benih, yang bertujuan memastikan ketersediaan benih ikan secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan dari luar. Pilar kedua adalah berdikari proses, yang menekankan pada tata kelola budidaya yang efisien dan terstandarisasi. Pilar ketiga adalah berdikari pakan, yang mengimplementasikan inovasi pengolahan pakan mandiri untuk menekan biaya produksi secara signifikan dan berkelanjutan.

Pilar keempat adalah berdikari produk, yang mendorong hilirisasi hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah tinggi di pasaran. Pilar kelima dan terakhir adalah berdikari pengetahuan, yang berfokus pada transfer ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama keberlanjutan program jangka panjang. Penerapan kelima pilar ini secara konsisten berhasil menciptakan konsep "sustainable fisheries, empowering community" yang menjadi model percontohan di tingkat nasional.

"Program ini tidak memberikan bantuan instan yang bersifat sementara, melainkan membangun sistem yang mandiri dari hulu hingga ke hilir. Hasilnya pun nyata, kini telah terbentuk 30 sentra perikanan terintegrasi," jelas Roberth.

Dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari program Belida Musi Lestari terlihat sangat signifikan dan terukur. Secara inklusif, program ini berhasil melibatkan 307 jiwa dari 8 kategori kelompok rentan yang sebelumnya terpinggirkan dari akses ekonomi formal. Dari sisi finansial, program ini mencatatkan lompatan luar biasa dengan hasil penjualan ikan yang meningkat tajam hingga 809 persen atau setara dengan sekitar Rp750 juta.

Dari sisi lingkungan, program Belida Musi Lestari juga berhasil menjawab tantangan pengelolaan limbah secara inovatif dengan mengolah 36 ton sampah makanan menjadi pakan ikan atau pellet food waste yang bernilai ekonomis. Inovasi ini sekaligus menjadi solusi ganda yang mengatasi masalah lingkungan sekaligus menekan biaya produksi pembudidaya ikan secara bersamaan.

"Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan simbol pulihnya daya beli dan kesejahteraan keluarga nelayan di sepanjang bantaran Sungai Musi," tutur Roberth.

Dari sisi pelestarian, program ini berhasil mengkonservasi 4 jenis ikan Belida khas Sumatera Selatan yang sebelumnya berada di ambang kepunahan. Program ini juga melahirkan Pusat Pembelajaran Masyarakat yang dilengkapi dengan 2 model pembelajaran dan 18 kelas edukasi perikanan sebagai warisan intelektual yang akan terus bermanfaat bagi generasi mendatang.

Keberhasilan program ini mendapat apresiasi luas dari berbagai pemangku kepentingan, tercermin dari skor Indeks Kepuasan Masyarakat yang mencapai 98,26 persen dengan predikat Sangat Puas. Survei Exit Readiness and Sustainability Score juga menunjukkan angka 81,77 dengan kategori Very High Readiness, yang menandakan kesiapan masyarakat untuk mengelola program ini secara mandiri tanpa ketergantungan pada pihak luar.

"Efektivitas investasi sosial program ini juga terukur melalui nilai SROI (Social Return on Investment) sebesar 1,76. Ini artinya, setiap implementasi program menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi yang berlipat bagi masyarakat," tandas Roberth.

Program Belida Musi Lestari menjadi bukti nyata komitmen Pertamina Patra Niaga terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dicanangkan PBB, mencakup kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, kota dan permukiman berkelanjutan, hingga penanganan perubahan iklim dan ekosistem darat.

"Program Belida Musi Lestari adalah bukti nyata bahwa kerusakan lingkungan dapat diatasi melalui kolaborasi dan inovasi. Dengan menyatukan aspek konservasi Ikan Belida dan pemberdayaan ekonomi berbasis kemandirian, program ini tidak hanya menyelamatkan ekosistem Sungai Musi, tetapi juga membangun benteng ketahanan ekonomi masyarakat lokal," tutup Roberth.

(tim)

No more pages