Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, Indonesia juga akan mengimpor minyak mentah atau crude oil dari Negeri Elang Bondol dengan nilai US$4,5 miliar atau setara Rp76,02 triliun.

Terakhir, Indonesia juga harus mengimpor BBM atau bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun.

Dalam poin lainnya, Indonesia juga diharuskan mendukung serta memfasilitasi pihak badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta untuk meningkatkan pembelian produk energi AS.

Dalam hal ini, komoditas energi tersebut termasuk dalam pembelian minyak mentah, LPG, maupun produk minyak olahan lainnya seperti bensin.

“Indonesia akan memfasilitasi, dengan memberikan semua persetujuan pemerintah, keputusan, dan izin yang diperlukan kepada entitas milik negara dan sektor swasta, peningkatan pembelian energi AS,” tulis Gedung Putih.

“Pengembangan pendekatan pembelian untuk minyak mentah AS; dan pembelian lebih banyak produk minyak olahan AS dan LPG, termasuk melalui kontrak jangka panjang,” lanjutnya.

Kesepakatan impor komoditas migas tersebut merupakan salah satu bagian penting dalam kesepakatan tarif resiprokal RI-AS.

Adapun, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan ketahanan stok BBM bersubsidi jenis Pertalite per 7 April 2026 mencapai 18,1 hari, tercatat berada tipis di bawah batas minimum nasional sejumlah 18,2 hari.

Dalam bahan paparan BPH Migas saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, dilaporkan bahwa stok Pertalite nasional per 7 April 2026 mencapai 1,51 juta kiloliter (kl).

Dari besaran itu, rencana penyaluran harian atau daily objective throughput (DOT) mencapai 84.038  kl per hari, sehingga ketahanan stok nasional atau coverage days (CD) berada di level 18,1 hari.

“Untuk RON 90 atau Pertalite itu sebesar 18,1 coverage day yang saat ini juga statusnya sangat aman,” kata Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam RDP di Komisi XII DPR, baru-baru ini.

Selanjutnya stok Pertamax atau RON 92  secara nasional dilaporkan 382.284 kl dengan penyaluran 17.329 kl per hari dan ketahanan stok 22,1 hari. Stok Pertamax tersebut lebih tinggi dari batas minimum 19,9 hari.

Sementara itu, Pertamax Turbo atau RON 98 memiliki stok 38.698 kl dengan penyaluran 832 kl per hari, sehingga ketahanan stok mencapai 46,5 hari, jauh di atas batas minimum 22,3 hari.

Lebih lanjut, pada BBM jenis Solar atau CN 48, stok nasional tercatat 1.575.287 kl dengan penyaluran harian 95.638 kl, menghasilkan ketahanan stok 16,5 hari. Stok Solar CN 48 tersebut tercatat di atas batas minimum 16,3 hari.

Pertamina Dex atau CN 53 memiliki stok 71.833 kl dengan penyaluran 1.113 kl per hari dan ketahanan stok mencapai 64,5 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.

Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.

Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia.  

Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian ESDM, pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.

Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.

(azr/wdh)

No more pages