Pembicaraan ini berlangsung saat Cheng melakukan kunjungan langka ke Tiongkok, di mana ia telah bertemu dengan para pejabat partai di Nanjing dan Shanghai. Pertemuan tersebut kemungkinan besar akan berlangsung tertutup, menurut laporan UDN. Cheng diperkirakan akan mengadakan konferensi pers setelahnya.
Cheng menggambarkan perjalanan ini sebagai bagian dari strategi "pencegahan melalui dialog," dengan alasan bahwa konflik antara Taiwan dan Tiongkok "bukanlah hal yang tak terhindarkan." Ia juga mengatakan partainya akan berupaya untuk melanjutkan pertukaran lintas selat yang luas, termasuk pariwisata dan keterlibatan politik, jika kembali berkuasa pada tahun 2028.
Pertemuan yang sukses dapat memberi pemimpin Tiongkok lebih banyak pengaruh menjelang pertemuan puncak yang direncanakan dengan Presiden AS Donald Trump bulan depan, karena Beijing dapat menggunakan keterlibatan tersebut untuk memberi sinyal bahwa sebagian Taiwan mendukung hubungan yang lebih dekat dengan Tiongkok.
Namun kunjungan ini telah menarik perhatian di Taiwan, di mana Partai Progresif Demokratik yang berkuasa mengatakan bahwa tidak ada kelompok politik yang dapat bernegosiasi dengan Beijing tanpa otorisasi resmi. Meskipun tidak pernah memerintah Taiwan, Partai Komunis Tiongkok telah lama berupaya untuk membawa pulau itu ke dalam pengaruhnya.
Para pejabat juga memperingatkan bahwa Tiongkok mungkin menggunakan pertemuan tersebut untuk memengaruhi postur pertahanan Taiwan, termasuk pengadaan militer dari AS.
(bbn)




























