Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) memang tengah memacu produksi Pertamina Sustainable Aviation Fuel atau PertaminaSAF di Kilang Cilacap.

Perseroan kini juga bersiap mereplikasi proses produksi berbahan baku minyak jelantah itu di Kilang Dumai dan Kilang Balongan.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun menegaskan keberhasilan produksi di Cilacap menjadi fondasi penting untuk ekspansi ke kilang lain. Perusahaan optimistis kapasitas produksi dapat meningkat signifikan dengan tambahan fasilitas baru.

"Pertamina berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi PertaminaSAF dari kilang-kilang eksisting. Keberhasilan Kilang Cilacap akan kami replikasi di Kilang Dumai dan Kilang Balongan," kata Roberth M.V. Dumatubun, akhir Februari.

Adapun, PT Pertamina (Persero) bakal melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek kilang bioavtur di Cilacap tersebut pada Jumat (6/2/2026).

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengatakan kilang biofuel itu bakal memiliki kapasitas produksi sekitar 6.000 barel per hari atau sekitar 300.000 kiloliter (kl) per tahun.

“Kita akan groundbreaking the first standalone dedicated Green Refinery di Cilacap. Itu kapasitasnya 6.000 barel per hari, sekitar 0,3 juta kiloliter SAF,” kata Oki di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Oki mengungkapkan kilang tersebut bakal mengolah avtur dengan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah, dan palm oil mill effluent (POME).

“Ini merupakan proyek strategis nasional dan harapannya kita terus bisa mengejar SAF hingga nanti seperti target dunia pada 2050 itu setengah dari SAF itu berasal dari nabati,” ungkap dia.

(wdh)

No more pages