Logo Bloomberg Technoz

Menurut Agusman, tingginya pembiayaan bermasalah juga dipengaruhi dominasi penyaluran ke sektor produktif, khususnya UMKM. Karakteristik sektor ini sangat bergantung pada arus kas usaha dan kondisi pasar.

“Dominasi pada sektor produktif mencerminkan karakteristik usaha, khususnya UMKM, yang antara lain bergantung pada arus kas dan kondisi pasar. Jadi bukan semata-mata disebabkan keterbatasan data, mengingat penyelenggara telah memanfaatkan berbagai sumber data seperti SLIK dan FDC,” jelasnya.

Di sisi lain, OJK juga menyoroti aspek permodalan industri. Saat ini terdapat 10 penyelenggara yang belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum Rp12,5 miliar. Agusman menjelaskan, seluruh penyelenggara tersebut telah menyampaikan rencana aksi (action plan), mulai dari penambahan modal oleh pemegang saham, pencarian investor strategis, hingga opsi merger.

“Ke depan, penguatan e-KYC, peningkatan kualitas credit scoring, dan penguatan permodalan terus didorong agar industri tetap sehat, profil risiko terjaga, serta pelindungan konsumen dapat dilakukan dengan baik,” kata Agusman.

Dari sisi penyaluran, tren historis menunjukkan adanya peningkatan pembiayaan pindar selama Ramadan dan Lebaran 2026 ini. Pada Maret 2024, penyaluran pembiayaan pindar tumbuh 8,9% secara bulanan (mtm), sedangkan pada Maret 2025 tumbuh 3,8% mtm.

Sebagai catatan, outstanding pembiayaan di industri pinjaman daring atau peer-to-peer (P2P) fintech lending tercatat Rp100,69 triliun per Februari 2026. Terjadi peningkatan 25,75% secara year-on-year (yoy). Data kredit fintech p2p lending pada bulan sebelumnya tercatat masih Rp98,54 triliun. Secara tren, masih terjadi pertumbuhan positif dimana capaian bulan Desember tahun lalu di Rp96,62 triliun. 

Rasio kredit Wanprestasi 90 hari (TWP90), lanjut Agusman, ada pada level 4,54% hingga Februari, juga mencatat tren kenaikan dimana pada Januari ada pada kisaran level 4,38% dan 4,32% di Desember 2025. Data secara yoy TWP90 industri pinjaman daring masih di kisaran 2,78%.

Masih dalam paparan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB), realisasi outstanding piutang per Februari pada industri multifinance telah tembus Rp512,14 triliun atau naik 1,01% secara yoy. Posisi bulan Januari masih ada di kisaran Rp508,27 triliun.

Industri modal ventura juga tercatat telah menyalurkan pembiayaan hingga Rp16,46 triliun pada bulan kedua 2026, atau dibandingkan dengan Januari terjadi kenaikan sekitar Rp510 miliar. Sementara nilai aset industri ventura tercatat Rp27,63 triliun.

Capaian penyaluran layanan pergadaian yang direkam OJK mencatatkan angka Rp152,4 triliun, naik signifikan dibandingkan dengan posisi Januari di Rp143,14 triliun. Nilai aset industri pergadaian juga melonjak dari Rp171,07 triliun di Januari menjadi Rp182,71 triliun hingga akhir Februari.

(dhf)

No more pages