Kemudian, lanjut dia, perusahaan juga turut meminta bantuan fiskal sementara untuk mengimbangi lonjakan eksponensial dalam krisis rantai pasokan global.
"Kami berharap pemerintah dapat membantu memastikan ketersediaan energi dan dukungan kebijakan yang tepat sasaran agar aktivitas produksi kami tetap berlanjut dan memberikan dampak positif bagi program hilirisasi," kata dia.
Terlebih, kata dia, perusahaan juga memastikan distribusi pasokan diutamakan untuk memenuhi kebutuhan industri hilir nasional sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas.
Dukungan itu akan memberikan keamanan yang sangat penting, tidak hanya untuk situasi saat ini tetapi juga untuk industri domestik yang lebih luas di masa depan.
"Prioritas utama kami adalah menjaga keberlangsungan pasokan bagi industri dalam negeri. LCI terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan, sekaligus mendukung stabilitas sektor manufaktur nasional,”kata dia.
Adapun, pabrik Lotte berlokasi di Cilegon, Banten. Pabrik petrokimia tersebut baru diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada November 2025 lalu.
Pabrik tersebut diklaim dapat menekan impor minyak dan gas (migas) Indonesia mencapai US$1,4 miliar atau sekitar Rp23 triliun, yang diklaim dapat menghasilkan produk hilirisasi migas senilai US$2 miliar per tahun atau sekitar Rp33,46 triliun.
Proyek besutan perusahaan asal Korea Selatan tersebut memiliki nilai investasi US$3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun.
Pabrik tersebut mampu mengolah bahan baku naphta sebesar 3.200 kiloton per tahun (kTA), disertai tambahan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) sebesar 0%—50% sebagai bahan pendukung.
Dari bahan baku tersebut, naphta diolah menjadi produk hulu antara lain; ethylene sebesar 1.000 kTA, propylene sebesar 520 kTA, mixed C4 sebesar 320 kTA, pyrolysis gasoline sebesar 675 kTA, pyrolysis fuel oil sebesar 26 kTA, dan hidrogen sebesar 45 kTA.
Sementara itu, produk hilirnya terdiri atas; high density polyethylene (HDPE) sebanyak 250 kTA, linear low density polyethylene (LLDPE) sebanyak 200 kTA, polypropylene (PP) sebanyak 350 kTA, butadiene sebanyak 140 kTA, raffinate sebanyak 180 kTA, serta benzene, toluene, dan xylene (BTX) dengan total kapasitas 400 kTA.
Produk-produk tersebut akan menjadi bahan baku pembuatan botol plastik, kabel, bumper mobil, peralatan medis, ban, karet sintetis, pembasmi serangga, dan cat.
(dhf)





























