Logo Bloomberg Technoz

“Konflik yang berkepanjangan dapat memperburuk kedua risiko ini secara bersamaan,” tulis Stanley dalam catatannya kepada klien. “Hal ini membuat FOMC memilih untuk tetap bersikap menunggu.”

Sejumlah pejabat yang lebih mengkhawatirkan inflasi mendesak rekan-rekan mereka untuk memasukkan klausul dalam pernyataan setelah rapat yang membuka skenario kenaikan suku bunga dalam kondisi tertentu.

“Beberapa peserta menilai ada argumen kuat untuk memberikan deskripsi dua arah mengenai keputusan suku bunga di masa depan. Hal ini mencerminkan kemungkinan bahwa penyesuaian ke atas pada suku bunga acuan (fed funds rate) bisa dilakukan jika inflasi tetap berada di atas target,” tulis notulensi tersebut.

Sentimen serupa juga muncul dalam risalah pertemuan Januari The Fed, namun jumlah pejabat yang mendukung pandangan tersebut meningkat. Dalam istilah yang digunakan The Fed, kata “beberapa” menunjukkan jumlah pejabat yang lebih besar dibandingkan kata “sejumlah”, yang digunakan pada Januari.

Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, risalah juga mencatat bahwa “sebagian besar” pejabat menilai dibutuhkan waktu lebih lama untuk mengembalikan inflasi ke target 2% The Fed.

Dalam pertemuan tersebut, pejabat mempertahankan suku bunga acuan The Fed di kisaran 3,5% hingga 3,75%.

Dampak Perang

Rapat tersebut terjadi hampir tiga minggu setelah pecahnya perang di Timur Tengah yang menyebabkan biaya energi global melonjak. Kondisi ini memberikan tekanan pada inflasi sekaligus mengancam pertumbuhan ekonomi. Sejak saat itu, beberapa pembuat kebijakan mengisyaratkan keinginan untuk menahan suku bunga tetap stabil sambil memantau dampak perang.

Pekan ini, pengumuman Donald Trump mengenai kesepakatan gencatan senjata dengan Iran dan rencana pembicaraan langsung di Pakistan memang menjadi titik balik dari ancaman serangan besar-besaran sebelumnya. Namun, pertempuran sporadis di kawasan tersebut serta klaim Iran mengenai pelanggaran kesepakatan menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata dalam perang enam minggu yang telah memicu krisis energi global ini.

Masalah lain yang masih membayangi adalah ketidakpastian mengenai kapan dan bagaimana Selat Hormuz akan dibuka kembali untuk pelayaran yang aman, mengingat ratusan kapal pengangkut masih tertahan di kawasan Teluk.

Dalam proyeksi yang dirilis setelah rapat, para pembuat kebijakan mengisyaratkan ekspektasi satu kali penurunan suku bunga pada tahun 2026, tidak berubah dari perkiraan Desember lalu. Namun, pasar berjangka menunjukkan investor skeptis bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sama sekali pada tahun ini.

Terkait pasar tenaga kerja, sebagian besar pejabat memperkirakan tingkat pengangguran tidak akan banyak berubah, meski mayoritas setuju bahwa risiko terhadap sektor ini cenderung menurun (downside risk).

“Secara khusus, banyak peserta memperingatkan bahwa dalam situasi penciptaan lapangan kerja yang rendah saat ini, kondisi pasar tenaga kerja tampak rentan terhadap guncangan negatif,” tulis notulensi tersebut.

Di sisi lain, para pembuat kebijakan mencatat bahwa konflik Timur Tengah yang berkepanjangan kemungkinan akan menyebabkan kenaikan harga energi yang persisten, yang pada gilirannya dapat mendorong inflasi inti. Beberapa pejabat juga menyoroti kemungkinan bahwa "ekspektasi inflasi jangka panjang bisa menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan harga energi", mengingat inflasi sudah berada di atas target selama lima tahun terakhir.

(bbn)

No more pages