Logo Bloomberg Technoz

Mohit Mirpuri, Partner di SGMC Capital Pte, menyebut bahwa kebijakan FTSE Russell mencerminkan bahwa upaya reformasi pasar modal di Tanah Air mendapat pengakuan.

“Ini bisa menjadi sentimen positif bagi investor. Ditambah dengan gencatan senjata di Timur Tengah, tentu bisa menstabilkan sentimen terhadap aset-aset di Indonesia,” sebut Mirpuri, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Indonesia memang tengah fokus melakukan reformasi pasar modal. Sepertinya upaya ini sudah membuahkan hasil, di mana kepercayaan investor meningkat.

Ini terlihat dari indikator imbal hasil (yield) obligasi pemerintah. Untuk tenor 10 tahun, yield turun 0,26% dalam seminggu terakhir. Selama sebulan ke belakang, yield terpangkas 0,12%.

Di pasar surat utang, penurunan yield berarti hara obligasi naik karena tingginya permintaan.

“Reformasi ini merupakan momentum penting untuk meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia. Dengan kebijakan yang presisi dan kolaboratif, kepercayaan investor domestik maupun global akan semakin menguat,” ujar Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto.

Selain itu, kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pun menjadi angin segar. Kepala Negara berulang kali menegaskan bahwa kebijakan pemerintah akan pro-rakyat, mengutamakan kepentingan masyarakat.

Ini terlihat dari ketegasan pemerintah untuk mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM), baik subsidi maupun non-subsidi. Tujuannya adalah menjaga daya beli masyarakat, tidak membuat inflasi melonjak.

“Jika subsidi dikurangi, maka inflasi akan meningkat. Akan terjadi protes di jalan-jalan, yang pada gilirannya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi cukup signifikan. Jadi kami memilih untuk mencegah itu terjadi,” tegas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, dalam wawancara dengan Bloomberg News.

(red)

No more pages