“[Energi terbarukan] ini bagus buat kita ke depan. Jangan sampai ditunda lagi pemanfaatannya,” ujar Bahlil sesaat setelah pengumuman MoU tersebut, dikutip dari siaran pers, Rabu (1/4/2026).
Dalam kerangka MoU, kerja sama kedua negara diarahkan pada sejumlah sektor strategis, mulai dari pengembangan energi terbarukan seperti surya, angin, dan panas bumi, hingga pemanfaatan energi masa depan seperti nuklir dan hidrogen.
Di sisi lain, kolaborasi tersebut juga mencakup penguatan sistem penyimpanan energi, efisiensi energi, bioenergi, serta pengolahan limbah menjadi energi.
Selain itu, MoU tersebut juga bakal mendorong pembangunan jaringan listrik pintar, stasiun pengisian kendaraan listrik, dan industri baterai dari hulu hingga daur ulang.
“Termasuk juga dukungan bagi sistem energi terpadu di pulau-pulau mandiri energi supaya manfaat energi bersih bisa dirasakan lebih luas, termasuk di wilayah terpencil,” tambah Bahlil.
Adapun sepuluh MoU yang dipertukarkan meliputi:
1. Nota Kesepahaman tentang Pembentukan Dialog Strategis Komprehensif Khusus
2. Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Ekonomi 2.0
3. Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama dalam Kemitraan Mineral Kritis
4. Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama dalam Pengembangan Digital
5. Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama di bidang AI untuk Kesehatan Dasar dan Pembangunan Manusia
6. Nota Kesepahaman tentang Penguatan Kerja Sama di Bidang Energi Bersih
7. Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama di Bidang Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS)
8. Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama di Bidang Industri Jasa Pembangkit Lepas Pantai
9. Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Perlindungan dan Penegakan Hak Kekayaan Intelektual
10. Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Keuangan (Danantara–Exim Bank of Korea)
(azr/ros)































