Indonesia turut mengimpor serealia dan bahan bakar mineral dari Australia dengan nilai masing-masing US$291 juta dan US$168 juta sepanjang Januari-Februari 2026.
Sementara itu, impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Singapura lompat 196,5% menjadi US$323,43 juta awal tahun ini.
Secara keseluruhan, nilai impor nonmigas dari Australia mencapai US$2 miliar, sebagian besar disumbang mesin/peralatan mekanis dan bagiannya sebesar US$845,58 juta dan mesin/perlengkapan elektrik sebesar US$167,97 juta.
Di sisi lain, nilai impor nonmigas Indonesia mencapai US$36,93 miliar sepanjang Januari-Februari 2026, naik 17,49%.
Sebagian besar impor itu merupakan bahan baku/penolong dengan porsi mencapai US$29,4 miliar, naik 9,27%.
Menurut perhitungan BPS, nilai impor nonmigas dari China mencapai US$15,88 miliar pada periode itu, lompat 26,66% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$12,38 miliar.
Ateng mengatakan impor dari China didominasi barang mesin/peralatan mekanik. Di sisi lain, impor dari kawasan Asia Tenggara atau Asean justru melambat.
“Peningkatan nilai impor terutama terjadi di China, Australia, Singapura dan Uni Eropa, sementara itu impor dari Asean mengalami penurunan,” kata Ateng.
Neraca Dagang Surplus
BPS melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia tercatat mengalami surplus US$1,27 miliar pada Februari 2026. Artinya, ini merupakan surplus 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Nilai surplus lebih tinggi dibanding posisi surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 yang sebesar US$950 juta.
Kendati demikian, nilai surplus itu lebih rendah dibanding konsesus Bloomberg yang memproyeksi neraca perdagangan Februari mencatat surplus dengan median sekitar US$1,5 miliar.
Ateng menerangkan pada Januari 2026, neraca perdagangan terutama ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas, yakni dengan surplus sebesar US$2,19 miliar.
"Beberapa komoditas penyumbang surplus yakni, lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," ujar Ateng.
Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$920 juta, dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak, serta gas.
(naw)





























