Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$920 juta, dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak, serta gas.
Sebelumnya, konsensus Bloomberg yang melibatkan 19 analis/ekonom memperkirakan median proyeksi pertumbuhan ekspor pada Februari 2026 berada di level 4,08% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dengan pertumbuhan impor melesat ke level 10,64% yoy.
Konsensus Bloomberg yang melibatkan lebih dari 19 analis/ekonom memperkirakan median proyeksi pertumbuhan ekspor pada Februari membaik menjadi 4,08% year-on-year (yoy). Sementara dari hasil konsensus dihasilkan median rata-rata pertumbuhan impor diproyeksi menjadi 10,64% yoy.
Dengan demikian, Konsesus Bloomberg memproyeksi neraca perdagangan Februari mencatat surplus dengan median sekitar US$1,5 miliar. Lebih baik dari capaian bulan sebelumnya US$954 juta.
Akan tetapi, ada rentang proyeksi yang cukup jauh antrara US$800 juta hingga US$4 miliar oleh para ekonom, hal ini sepertinya menggambarkan kondisi ketidakpastian geopolitik terjadi belakangan di Timur Tengah yang dapat memengaruhi capaian ekspor.
Sebagai catatan, tahun lalu ekspor dalam negeri ke kawasan Timur Tengah tercatat mencapai sekitar US$9,87 miliar atau mengambil porsi 3,49% dari total ekspor. Negara terbesar adalah Uni Emirat Arab (UEA) yang mengambil porsi sekitar 40%. Sementara itu, Arab Saudi mengambil porsi sekitar 29%. Lalu, ekpsor ke Iran hanya sebesar 2,5% atau setara sekitara US$250 juta.
(lav)



























