Pasar saham di kawasan juga bergerak menguat, mengapresiasi kondisi yang relatif stabil, setidaknya untuk hari ini. Pada 08:20 WIB, indeks Topix menguat 3,3%, Nikkei 225 3,54%, Taiwan TAIEX juga terapresiasi 3,9%.
Sementara, FTSE Malaysia dan Straits Times masing-masing menguat 1,07% dan 1,94%. Begitu juga dengan KOSPI dan KOSDAQ menguat paling tinggi masing-masing 5,97% dan 4,88%.
Dari pasar domestik, IHSG juga bergerak menguat, setelah kemarin ditutup lesu 0,61% ke 7.048.
Dari pasar domestik, kebijakan efisiensi membuat pasar bisa sedikit bernafas meski belum sepenuhnya lega lantaran risiko pelebaran defisit fiskal masih membayangi.
Melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pemerintah merumuskan delapan kebijakan efisiensi sebagai upaya mitigasi ketegangan geopolitik.
Di antaranya, penerapan kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), membatasi pengisian BBM bagi kendaraan maksimal 50 liter dan menerapkan B50, mengurangi jumlah hari distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga pengalihan belanja kementerian dengan total potensi penghematan sebesar Rp121,2 triliun hingga Rp130,2 triliun.
Pasar merespons kebijakan tersebut dengan positif meski tetap berhati-hati dengan kondisi yang ada. Pasar masih menimbang apakah sinyal de-eskalasi ini akan berlanjut dan terwujud, atau justru berbalik arah.
Begitu juga dari pasar Surat Utang Negara (SUN) masih mengirim sinyal waspada. Meski jumlah penawaran naik 14,29% menjadi Rp58,22 triliun daripada lelang sebelumnya, Rp50,94 triliun, rasio bid-to-cover relatif stagnan di 1,46 kali, sedikit di bawah 1,49 kali pada lelang sebelumnya. Selain itu, lelang kali ini diganjar mahal oleh investor dengan kenaikan yield.
Pada lelang sebelumnya, yield SUN tenor 5 tahun seperti FR0109 berada di kisaran 5,88%, sementara tenor 10 tahun seperti FR0108 di 6,52%. Sedangkan pada lelang kali ini, yield seri yang sama naik signifikan, dengan FR0109 mencapai sekitar 6,57% dan FR0108 mendekati 6,87%.
Kenaikan yield tersebut mencerminkan adanya kenaikan premi risiko yang diminta investor hanya dalam waktu kurang dari satu bulan.
Agaknya investor belum cukup nyaman dengan kondisi domestik saat ini, di mana kondisi fiskal terjepit, tetapi belanja masih ekspansif. Sehingga imbal hasil yang diminta cenderung lebih tinggi sebagai kompensasi ketidakpastian.
(dsp/aji)





























