Perang di Timur Tengah membuat harga energi melambung tinggi. Harga minyak bumi dan gas alam contohnya.
Dalam sebulan terakhir, harga minyak jenis brent meroket 34,52%. Sementara harga gas alam di pasar TTF (Belanda) melejit 14,05%.
Saat harga minyak dan gas makin mahal, batu bara kembali dilirik. Ini membuat permintaan batu bara melonjak dan harga pun menanjak.
Sebelumnya, International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi batu bara dunia akan turun 1,4% sampai 2027. Namun dengan perkembangan terkini, sepertinya proyeksi itu sulit terwujud.
“Perasaan saya mengatakan (konsumsi batu bara) tidak akan turun pada 2026, dan tentunya tidak akan turun seperti perkiraan yang dibuat sebelum perang. Sebab, yang paling penting adalah membuat lampu tetap menyala,:” tegas Doug Arent, Senior Fellow di WRI Polsky Center for Global Energy Transition, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Analisis Teknikal
Bagaimana kira-kira perkiraan harga batu bara untuk bulan ini? Apakah pada April harga bisa naik lagi?
Secara teknikal dengan perspektif bulanan (monthly time frame), batu bara masih menghuni zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 55. RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish.
Akan tetapi, indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh 100. Paling tinggi, sudah sangat jenuh beli (overbought).
Untuk perdagangan bulan ini, harga batu bara rasanya berisiko turun. Target support terdekat ada di US$ 117/ton.
Jika kemudian harga melorot hingga menembus pivot point US$ 116/ton, maka ada kemungkinan bisa longsor ke arah US$ 113-111/ton.
Namun andai masih kuat menanjak, sepertinya ruang kenaikan harga batu bara sudah relatif terbatas. Target paling optimistis ada di US$ 148/ton.
(aji)





























