Bagi Indonesia, dengan harga minyak mentah bertahan tinggi, dapat memberi tekanan pada impor migas yang akan menyebabkan pelebaran defisit transaksi berjalan. Dari sisi fiskal beban subsidi energi juga meningkat dan mempersempit ruang belanja pemerintah.
Apabila perang berlanjut dalam durasi lebih lama, dan harga minyak benar-benar menembus US$140 per barel dampak terhadap rupiah mungkin bisa lebih cepat tidak seperti sekarang yang masih cenderung tertahan, terutama di pasar spot.
Selain itu, di pasar offshore rupiah sudah bertengger di level Rp17.000/US$ sejak kemarin. Setelah level tersebut tertembus beberapa kali di pasar offshore, pelaku pasar akan mulai mempertanyakan kemampuan stabilisasi otoritas moneter. Di sisi lain, pelemahan rupiah yang terus terjadi juga semakin meningkatkan premi risiko Indonesia di mata investor global.
Di sisi lain, pemangkasan anggaran untuk sektor produktif seperti berkurangnya Transfer ke Daerah (TKD) sebesar 24% menjadi Rp692,99 triliun tahun ini juga berisiko menciptakan perlambatan ekonomi.
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dari 5% menjadi 4,8% dan memperkirakan tingkat inflasi umum (head inflation) yang lebih tinggi untuk 2026.
(dsp/aji)



























