Logo Bloomberg Technoz

Mengutip BBC, aksi unjuk rasa memenuhi jalan-jalan pusat kota Washington DC sepanjang sore hari, dengan massa besar berbaris di ibu kota negara tersebut.

Para demonstran memenuhi tangga Lincoln Memorial dan memadati kawasan National Mall.

Seperti pada aksi “No Kings” sebelumnya, para demonstran membawa patung atau boneka figur Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan pejabat lainnya, sambil menyerukan agar mereka dilengserkan dan ditangkap.

Demonstran selama protes 'No Kings' di Chicago. (Sumber: Bloomberg)

Salah satu aksi utama “No Kings” pada Sabtu berlangsung di Minnesota, tempat dua warga Amerika—Renee Nicole Good dan Alex Pretti—tewas akibat tindakan agen imigrasi federal pada Januari.

Kematian mereka memicu kemarahan dan gelombang protes nasional terhadap kebijakan imigrasi pemerintahan Trump.

Ribuan orang pada Sabtu memadati jalanan dengan membawa berbagai spanduk, dan sejumlah tokoh Demokrat ternama juga berpidato di depan gedung State Capitol di St Paul.

Bruce Springsteen turut tampil dan membawakan lagu anti-penegakan imigrasi berjudul “Streets of Minneapolis.”

Ribuan orang juga memadati kawasan Times Square di New York, berbaris melalui kawasan Midtown Manhattan. Polisi terpaksa menutup jalan-jalan yang biasanya ramai untuk memberi ruang bagi massa. Pada Oktober, Kepolisian New York menyatakan lebih dari 100.000 orang berkumpul di lima wilayah kota tersebut.

Aksi “No Kings” terakhir pada Oktober menarik hampir tujuh juta peserta secara nasional.

Sejumlah negara bagian AS mengerahkan Garda Nasional, namun penyelenggara menegaskan bahwa aksi ini berlangsung damai.

Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Trump telah memperluas cakupan kekuasaan presiden, menggunakan perintah eksekutif untuk membongkar sebagian lembaga pemerintah federal serta mengerahkan pasukan Garda Nasional ke berbagai kota meskipun mendapat penolakan dari gubernur negara bagian.

Presiden juga meminta pejabat penegak hukum tertinggi dalam pemerintahannya untuk menuntut pihak-pihak yang ia anggap sebagai lawan politik.

Trump mengatakan langkah-langkahnya diperlukan untuk membangun kembali negara yang sedang dilanda krisis dan menepis tuduhan bahwa ia bertindak seperti diktator sebagai sesuatu yang berlebihan. “Mereka menyebut saya sebagai raja. Saya bukan raja,” katanya dalam wawancara dengan Fox News pada Oktober.

Namun para kritikus mengingatkan bahwa sejumlah kebijakan pemerintahannya tidak konstitusional dan menjadi ancaman bagi demokrasi Amerika.

Massa berkumpul baik di kota besar maupun kota kecil. Aksi “No Kings” juga berlangsung di Boston (Massachusetts), Nashville (Tennessee), dan Houston (Texas), dengan lebih banyak aksi diperkirakan terjadi sepanjang hari.

Jalan-jalan juga dipenuhi warga di kota-kota seperti Shelbyville, Kentucky dan Howell, Michigan, yang hanya berpenduduk sekitar 10.000 orang.

Para peserta membawa spanduk yang memprotes perang di Iran dan lembaga Immigration and Customs Enforcement (ICE) di berbagai lingkungan permukiman.

Warga Amerika yang tinggal di luar negeri juga ikut berdemonstrasi. Massa berkumpul di Paris, London, dan Lisbon, banyak di antaranya membawa spanduk yang menyebut presiden sebagai “fasis” dan “penjahat perang”, serta menyerukan pemakzulan dan pencopotannya dari jabatan.

(naw)

No more pages