Proyeksi Gerak Bitcoin di Tengah Tekanan Kedaluarsa Rp237 T
Redaksi
27 March 2026 13:10

Bloomberg, Kontrak opsi Bitcoin bernilai US$14 miliar (setara Rp237 triliun) segera kedaluarsa hari Jumat, berbarengan dengan tensi geopolitik yang terus memanas. Rollover pada periode kuartalan — yang menghapus hampir 40% posisi ‘open’ di bursa Deribit — terjadi di tengah sinyal bertolak belakang terkait prospek perang yang meletus hampir satu bulan antara Amerika Serikat dan Iran.
Tumpang tindih ini mempertajam pertanyaan penting bagi para pedagang: apakah kedaluwarsa tersebut telah secara artifisial meredam fluktuasi harga Bitcoin dan apakah penghapusannya akan membuat BTC terpapar pada pergerakan yang lebih tajam (didorong oleh geopolitik).
Bitcoin berayun pada kisaran US$60.000 hingga US$75.000 dalam beberapa pekan terakhir, melayang jauh di bawah puncak Oktober 2025 sekitar US$126.000 setelah kejatuhan pasar secara luas pada 10 Oktober.
Ketidakpastian arah ini terus berlanjut meskipun ada ketegangan geopolitik dan aliran dana acak ke ETF AS. Bitcoin turun hingga 4% menjadi US$68.122 di AS pada hari Kamis dan diperdagangkan sekitar US$68.800 pada Jumat pagi di Asia.
Posisi derivatif membantu menjelaskan ketenangan ini, menurut para pelaku pasar. Investor institusional menghabiskan sebagian besar kuartal pertama dengan menjual opsi call — secara efektif bertaruh bahwa harga tidak akan naik tajam — guna menghasilkan pendapatan saat pasar lesu, kata James Harris, CEO perusahaan pengelola aset Tesseract.





























