“Sampai dengan saat ini kendala dan upaya yang dihadapi semua negara sama, semua melihat ada risiko besar melintas Selat Hormuz,” tegasnya.
Sekadar informasi, Iran telah mengizinkan kapal-kapal Malaysia yang terjebak di Teluk Persia untuk kembali pulang melalui Selat Hormuz, kata perdana menteri negara Asia Tenggara tersebut dalam pidato yang disiarkan di televisi pada Kamis (26/3/2026) malam.
Jalur perairan sempit itu hampir sepenuhnya ditutup sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai hampir sebulan lalu, yang mengacaukan pasar energi global dan menjebak ratusan kapal tanker serta kapal lainnya.
Malaysia merupakan produsen minyak dan gas yang signifikan, tetapi juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah dan sangat bergantung pada selat tersebut.
“Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada presiden Iran karena telah memberikan izin melintas lebih awal,” kata Anwar Ibrahim.
“Kami sekarang sedang dalam proses mengamankan pembebasan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat, agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang.”
Di sisi lain, tanker milik Thailand yakni Bangchak Corporation Public Company Limited baru-baru ini juga sudah dapat melewati Selat Hormuz usai berlabuh di Teluk Persia sejak 11 Maret 2026.
“Kapal tanker tersebut saat ini sedang dalam perjalanan melintasi Samudra Hindia dan diperkirakan akan mengirimkan minyak mentah ke Thailand pada awal April,” tulis Bangchak Corporation dalam keterangan resminya.
“Bangchak terus memantau situasi dengan cermat dan berharap sisa perjalanan akan berlangsung lancar, sambil memprioritaskan transportasi yang aman dan pasokan energi yang stabil bagi negara.”
Iran mengatakan kapal-kapal asing diizinkan melintasi Selat Hormuz, selama mereka tidak mendukung tindakan agresi terhadap negara tersebut dan mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh Teheran.
Negara tersebut menyampaikan komentar tersebut dalam sebuah surat yang diedarkan kepada anggota Organisasi Maritim Internasional (IMO) pada Selasa, menambahkan bahwa negara-negara dapat memperoleh manfaat dari jalur aman "dalam koordinasi dengan otoritas Iran yang berwenang."
Surat asli dari Iran tertanggal 22 Maret, kata IMO.
Sekadar catatan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah hingga saat ini masih melakukan negosiasi untuk melepaskan 2 kapal tanker milik Pertamina yang masih terjebak di Teluk Oman gegara Selat Hormuz ditutup.
Bahlil mengatakan proses diplomasi masih dalam tahap antrean yang masih panjang. Hal itu lantaran tidak hanya kapal tanker milik Pertamina saja yang turut terbeka, melainkan dari sejumlah negara lain.
"Masih dalam negosiasi. Ini kan antreannya panjang. Kasih kami waktu. Masih negosiasi," ujar Bahlil kepada wartawan di Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Dihubungi secara terpisah, Pjs. Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS) Vega Pita mengatakan posisi dua kapal tanker perseroan, Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga saat ini masih berada di Teluk Persia.
"Pride sedang diperuntukkan melayani kebutuhan angkutan energi dalam negeri, sementara Gamsunoro melayani konsumen pihak ketiga," ujarnya, dalam keterangan tertulis.
Dia membenarkan hingga saat ini proses diplomasi untuk membebaskan kedua kapal tersebut masih terus dilakukan pemerintah.
"PIS berkoordinasi intensif baik dgn Pemerintah Indonesia, otoritas maritim, dan pihak berwenang setempat," terangnya.
Adapun, 2 kapal tanker tersebut yakni supertanker atau very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride dan Gamsunoro.
VLCC Pertamina Pride dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro untuk melayani pihak ketiga (non-Pertamina).
Awalnya terdapat empat kapal PIS yang berada di kawasan Timur Tengah. Antara lain; Gamsunoro di Khor al Zubair, Irak, Pertamina Pride yang tengah melakukan proses muat di Ras Tanura, PIS Rinjani dalam posisi lego jangkar di Khor Fakkan, serta PIS Paragon di Oman.
Belakangan, PIS Paragon dan PIS Rinjani berhasil keluar dari wilayah konflik Timur Tengah, dan tengah melayani distribusi energi untuk mitra pihak ketiga.
Secara total, PIS saat ini mengoperasikan 345 kapal untuk mendukung kebutuhan energi dalam negeri.
(azr/wdh)




























