Yield obligasi dengan tenor acuan 10 tahun naik menjadi 4,41% imbas lelang obligasi pemerintah AS menarik permintaan yang relatif lemah. Senentara, seorang pejabat Bank Sentral Eropa mengatakan bank tersebut dapat menaikkan tingkat bunga pada April jika prospek harga terus memburuk akibat perang di Iran. Harga minyak mentah Brent naik menjadi US$106 per barel, dan Indeks Volatilitas Cboe naik menjadi sekitar 27.
Trader di pasar kini menganalisis pertukaran pernyataan terbaru antara Presiden Donald Trump dan Iran sambil menilai kemungkinan gencatan senjata dalam perang yang telah berlangsung hampir sebulan.
Kamis sore, Trump memperpanjang batas waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz hingga 6 April, dengan mengatakan bahwa pembicaraan mengenai kesepakatan antara Washington dan Teheran “berjalan sangat baik”. Sebelumnya pada hari tersebut, ia telah mengancam Iran dengan tindakan militer yang lebih intensif dan mengatakan bahwa ia tidak yakin apakah kesepakatan diplomatik dapat tercapai, yang menambah tekanan pada pasar saham.
“Secara umum, pasar terkena pukulan bertubi-tubi dari sinyal kenaikan suku bunga ECB dan konferensi pers Trump yang bagi saya terdengar seperti pertanda langkah ‘lebih agresif’ berikutnya dalam konflik ini,” kata Mark Malek, dari Siebert Financial.
“Itu berarti harga minyak yang tinggi dan bertahan lama, yang menjadi titik sentral bagi seluruh pasar dan pada akhirnya suku bunga, yang pada akhirnya menghancurkan semua saham pertumbuhan,” kata dia.
‘Magnificent Seven’ turun sekitar 3% dan ditutup di level terendah sejak akhir Agustus. Saham Meta menjadi yang paling merosot di kelompok tersebut karena investor melihat risiko jangka panjang terkait putusan dalam sidang kasus kecanduan media sosial.
Kenaikan yield obligasi 10 tahun dan prospek penutupan Selat Hormuz yang lebih lama menjadi ancaman bagi saham-saham teknologi besar AS yang sebelumnya dianggap sebagai tempat berlindung yang aman sejak perang, kata Melissa Brown, kepala riset keputusan investasi di Simcorp.
“Teknologi saat ini bukanlah tempat berlindung yang aman. Penutupan Selat Hormuz bukan hanya soal minyak. Ini soal sumber daya lain, dan beberapa di antaranya sangat penting bagi perusahaan teknologi,” kata Brown.
Iran tengah menyusun RUU untuk mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz dengan aman, menurut kantor berita Fars. Kemudian, ejabat pemerintahan Trump sedang mengkaji apa arti lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel bagi perekonomian, menurut sumber yang mengetahui masalah ini.
“Kami menyarankan agar investor menjauhi perdagangan berdasarkan berita dan tetap disiplin karena situasi ini mungkin berlanjut selama beberapa minggu ke depan,” kata Sameer Samana, kepala ekuitas global dan aset riil di Wells Fargo Investment Institute.
Rob Kapito dari BlackRock Inc. mengatakan, investor boleh jadi meremehkan risiko yang timbul dari perang Iran, sementara harga minyak mungkin masih melonjak hingga US$150 per barel bahkan setelah perang berakhir, karena akan membutuhkan waktu bagi rantai pasokan yang terganggu untuk kembali ke kapasitas penuh.
Saham-saham chip anjlok setelah para peneliti Google mempromosikan teknik kompresi baru yang dapat mengurangi jumlah memori yang dibutuhkan untuk kecerdasan buatan di seluruh dunia. Micron Technology Inc. dan Sandisk Corp. sama-sama merosot, sementara produsen-produsen Asia seperti SK Hynix Inc. dan Kioxia Holdings Corp. mengalami penurunan semalam.
(bbn)





























