Percepatan biaya impor ini menggarisbawahi risiko yang semakin besar akan kembalinya inflasi karena perusahaan-perusahaan menghadapi biaya energi yang lebih tinggi terkait perang di Iran. Importir AS juga harus berhadapan dengan bea masuk yang lebih tinggi yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump. Tarif tidak termasuk dalam data harga impor pemerintah.
“Mengingat momentum inflasi dan dampak yang diperkirakan dari konflik di Timur Tengah, tekanan harga akan meningkat sebelum akhirnya menurun,” kata Oren Klachkin, ekonom pasar keuangan di Nationwide, dalam sebuah catatan.
“Kami memperkirakan konflik tersebut akan memberikan tekanan naik pada harga energi dan pangan, serta dampaknya akan merembes ke dalam harga inti,” tambah dia.
Membandingkannya dengan Februari 2025, indeks harga impor tidak termasuk minyak bumi naik 2,8% — kenaikan terbesar sejak Oktober 2022 dan mengindikasikan bahwa beban tarif terutama ditanggung oleh para importir AS.
Pada bagian lain, penurunan nilai dolar AS sejak awal tahun lalu berisiko pada akhirnya membuat biaya barang-barang buatan luar negeri menjadi lebih mahal bagi para importir domestik. Dolar yang lebih murah, jika terus berlanjut, juga dapat menopang permintaan terhadap barang-barang buatan AS.
Data terbaru menunjukkan harga barang modal impor naik 1,3% dari bulan sebelumnya, kenaikan terbesar dalam data bulanan sejak 1988. Kenaikan harga komputer, periferal, semikonduktor, serta mesin industri dan jasa menjadi pendorong utama kenaikan tersebut. Harga impor dari Taiwan naik 1,2% pada Februari.
Biaya barang konsumsi tanpa termasuk mobil naik 0,5%, didorong oleh koin, batu permata, perhiasan, dan barang koleksi. Harga mobil dan suku cadang impor juga naik sedikit.
Harga barang asal China naik paling tinggi dalam hampir empat tahun. Harga barang dari Uni Eropa dan Kanada juga naik.
(bbn)





























