Logo Bloomberg Technoz

Penurunan tersebut, kata dia, terutama dipicu gangguan pasokan gas dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang terjadi di wilayah Jawa bagian Barat dan Timur. 

Akibat hal tersebut, sejumlah industri keramik di Jawa Timur terpaksa menghentikan operasional produksi selama sekitar satu minggu pada Januari 2026 akibat krisis pasokan tersebut.

“Gangguan suplai gas ini sangat berdampak langsung terhadap operasional pabrik dan produktivitas industri,” tutur dia.

Tak hanya itu, kondisi semakin diperparah oleh penurunan alokasi gas industri tertentu (AGIT) serta kenaikan harga surcharge gas atau biaya tambahan pemakaian di luar kuota.

Rata-rata AGIT di Jawa Barat sepanjang 2025 hanya mencapai 67 persen, turun dari sekitar 79% pada 2024. Kondisi terburuk terjadi pada Februari 2026 dengan AGIT anjlok hingga 49%.

Situasi serupa juga dirasakan di wilayah Jawa Timur, di mana AGIT pada Februari 2026 tercatat hanya 51%. Penurunan ini berdampak langsung pada lonjakan harga gas yang mencapai US$10–10,5/MMBTU di Jawa Barat dan sekitar US$8/MMBTU di Jawa Timur.

Akibatnya, porsi biaya energi dalam struktur biaya produksi industri keramik melonjak menjadi 33 hingga 35%. Padahal, saat kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) mulai diterapkan pada 2021, biaya energi sempat ditekan ke level 25–27%.

Selain faktor tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga turut memperburuk kondisi. Pasalnya, pembayaran gas ke PGN menggunakan kurs dolar AS sehingga meningkatkan beban biaya produksi.

“Daya saing industri keramik nasional semakin tertekan, apalagi jika dibarengi dengan praktik perdagangan tidak sehat dari negara lain,” kata dia.

Di sisi lain, konflik geopolitik di Timur Tengah turut menambah kekhawatiran. Indonesia sebagai negara net importir BBM berpotensi terdampak secara ekonomi. Sorotan juga tertuju pada potensi pengalihan ekspor keramik dari China dan India ke Indonesia akibat terganggunya pasar utama mereka di kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini dinilai berbahaya mengingat industri keramik di kedua negara tersebut tengah mengalami oversupply dan overcapacity. 

Ditambah lagi, produk impor tersebut dinilai lebih kompetitif karena biaya produksi yang lebih rendah, sementara industri dalam negeri justru tengah dibebani kenaikan biaya energi.

"Dengan berbagai tekanan tersebut, industri keramik nasional saat ini berada dalam situasi yang sangat sulit."

(ain)

No more pages