Menanggapi hal itu, De Cossio menyatakan bahwa meskipun Kuba "terbuka untuk bisnis," perubahan politik yang didikte oleh AS serta pembahasan mengenai tahanan di penjara Kuba sama sekali tidak akan dirundingkan.
"Sifat pemerintahan Kuba, struktur pemerintahan, dan para anggota pemerintahan bukanlah bagian dari negosiasi," ujarnya kepada NBC.
Sanksi AS yang menyasar ekonomi Kuba semakin diperketat di bawah pemerintahan Trump, termasuk blokade bahan bakar secara de facto. Kebijakan ini membuat pulau tersebut terjepit karena kekurangan sumber energi, pasokan, dan pendanaan. Pekan lalu, pemadaman listrik total (blackout) melanda Kuba untuk keenam kalinya dalam setahun terakhir, dan pemadaman total kembali dilaporkan terjadi pada Sabtu (21/3).
"Situasinya sangat parah," kata De Cossio mengenai krisis bahan bakar tersebut. Ia berharap agar "boikot yang dipaksakan oleh Amerika Serikat ini tidak berlangsung lama dan tidak dapat dipertahankan selamanya."
Meski berada dalam tekanan hebat, De Cossio menegaskan bahwa Kuba "tidak dalam kondisi runtuh." Ia menambahkan, "Kami berupaya sekreatif mungkin untuk bertahan."
(bbn)


























