“Ya harapannya tahun depan bisa menikmati kayak begini lagi. Bisa ketemu langsung juga sama Pak Presiden [Prabowo] juga. Semoga Tunjangan Hari Raya [THR] nya keluar,” ujarnya.
Ditemui di tempat yang sama, Nita perempuan berusia 43 tahun yang juga datang bersama putranya. Dia mengaku mengetahui acara ini dari orang tua teman sekolah anaknya.
“Saya belum pernah merasakan ke sini. Tadi sempat antre panjang. Habis salat id langsung ke sini. Dari 07.30 WIB. Berangkat dari Sunter subuh buat ikut salat di Masjid Istiqlal,” ujar Nita.
Terakhir, Cici seorang perempuan berumur 51 tahun yang merupakan tunanetra dari Cilebut juga hadir di Kompleks Istana Kepresidenan. Dia mengaku sering mengikuti agenda gelar griya sejak dahulu, bahkan sejak pemerintahan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Menurutnya, dia selalu menantikan kesempatan bersalaman dengan Kepala Negara setiap menghadiri kegiatan tersebut.
“Kalau saya ikut dari Pak SBY iya sampai akhir, sampai salaman Bapak Jokowi itu sampai mau di ada pelantikan itu bisa nyambut salam dulu,” ujarnya.
“Iya satu pengin salaman, karena kalau enggak ada itu walaupun ada undangan ya pengin ketemu, apalagi sama bapak presiden yang dulu, sama Bapak Jokowi, apalagi sama Bapak Prabowo. Jadi pengin langsung berjabat tangan langsung, maunya.”
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan bahwa kurang lebih sekitar 5.000 masyarakat turut hadir dalam acara open house di Istana Kepresidenan tersebut.
“Memang kita tidak membatasi atau tidak mengorganize sebagaimana acara biasanya, misalnya seperti acara 17 Agustus. Jadi kita berikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin hadir sukarela dipersilakan. Sepanjang masih memungkinkan, kami persilakan untuk masuk ke dalam lingkungan Istana Merdeka.” kata Prasetyo.
(ell)



























