Pada 8 Maret, Angkatan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan telah menyerang pusat komando dan kendali satelit pengintai Khayyam milik Iran, satelit buatan Rusia yang diluncurkan oleh Roscosmos—versi NASA dari Moskwa—pada tahun 2022.
Pada 16 Maret, IDF mengatakan Angkatan Udara Israel menghancurkan kompleks di Teheran yang digunakan untuk mengembangkan program ruang angkasa militer, termasuk senjata anti-satelit.
Lamson mengungkap bahwa di antara fasilitas lain yang diserang adalah pusat penelitian utama Badan Antariksa Sipil Iran, komando antariksa Pasukan Udara IRGC, serta fasilitas IRGC untuk perakitan dan pengujian roket.
Para kritikus Teheran telah lama mengatakan program ruang angkasanya merupakan bagian dari rencana pengembangan senjata, mengingat kesamaan teknologi antara roket dan rudal jarak jauh, dan pemerintahan Presiden Donald Trump memberikan sanksi pada badan antariksa tersebut selama masa jabatan pertamanya.
"Pekerjaan Iran pada kendaraan peluncuran antariksa—termasuk roket pembawa satelit Simorgh dua tahap berbahan bakar cair—kemungkinan memperpendek waktu untuk memproduksi rudal balistik antarbenua [ICBM] karena kesamaan teknologi," Jenderal Anthony Cotton, yang saat itu menjabat sebagai komandan Komando Strategis AS, bersaksi di hadapan senator AS pada Maret 2025.
Salah satu tujuan AS-Israel saat ini adalah mencegah musuh mereka mengakses orbit, kata John Sheldon, mitra pendiri AstroAnalytica Ltd,konsultan antariksa yang berbasis di Abu Dhabi.
"Anda dapat melakukannya pada banyak infrastruktur darat tanpa menyentuh aset di luar angkasa," katanya.
Serangan terhadap fasilitas-fasilitas Iran tidak berarti Republik Islam Iran tidak dapat lagi menggunakan satelit yang terhubung dengan stasiun-stasiun tersebut.
Mungkin ada pusat-pusat lain untuk satelit Khayyam di Iran, misalnya, dan Rusia kemungkinan besar mampu mengendalikan satelit tersebut, kata Tal Inbar, peneliti senior di Missile Defense Advocacy Alliance.
"Anda dapat berasumsi bahwa Rusia mengendalikan satelit tersebut, bukan hanya Iran," katanya.
Moskwa saat ini menyediakan berbagai bentuk intelijen kepada Iran, termasuk citra satelit dan taktik penargetan drone, dalam upaya membantu Iran membalas serangan pasukan AS di kawasan tersebut, seperti dilaporkan Bloomberg.
Pemerintah Iran kemungkinan akan keluar dari perang ini dengan program luar angkasa yang sangat melemah, kata Lamson dari King’s College London.
Dengan kemampuan membuat satelit atau meluncurkan roket yang sangat menurun, lanjutnya, Iran kemungkinan besar akan semakin bergantung pada negara-negara sekutu yang memiliki program jauh lebih canggih.
Dampak dari perang tersebut "mungkin membuat mereka lebih bergantung atau lebih aktif dalam mengejar teknologi satelit dan SLV dari Rusia dan China," kata Lamson, merujuk pada kendaraan peluncuran luar angkasa.
“Hal itu kemungkinan akan memiliki kualitas yang lebih baik daripada yang bisa dimiliki Iran sendiri," pungkasnya.
(bbn)


























