Penggunaan pasukan darat AS—meskipun untuk misi terbatas—membawa risiko politik besar bagi Trump. Dukungan publik Amerika terhadap kampanye Iran tergolong rendah, ditambah lagi dengan janji kampanye Trump terdahulu untuk menghindari keterlibatan AS dalam konflik baru di Timur Tengah.
Selain sektor energi, pejabat administrasi Trump juga membahas kemungkinan pengerahan pasukan untuk mengamankan stok uranium yang diperkaya milik Iran. Meski sumber-sumber tersebut tidak meyakini bahwa pengiriman pasukan darat akan terjadi dalam waktu dekat, para ahli memperingatkan bahwa tugas mengamankan stok uranium sangatlah kompleks dan berbahaya, bahkan bagi pasukan operasi khusus AS sekalipun.
Seorang pejabat Gedung Putih, yang berbicara dengan syarat anonim, menyatakan, "Hingga saat ini belum ada keputusan untuk mengirim pasukan darat, namun Presiden Trump dengan bijak tetap menyiapkan semua opsi."
"Presiden fokus untuk mencapai seluruh target dalam Operation Epic Fury: menghancurkan kapasitas rudal balistik Iran, memusnahkan angkatan laut mereka, memastikan proksi teroris mereka tidak dapat mendestabilisasi kawasan, dan menjamin Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," tambahnya. Sementara itu, pihak Pentagon menolak memberikan komentar.
Diskusi mengenai pasukan darat ini muncul di tengah serangan berkelanjutan militer AS terhadap angkatan laut, stok rudal, drone, serta industri pertahanan Iran.
Berdasarkan data resmi dari Komando Pusat AS (CENTCOM) yang dirilis Rabu (18/3), AS telah meluncurkan lebih dari 7.800 serangan sejak memulai perang pada 28 Februari. Hingga saat ini, lebih dari 120 kapal Iran dilaporkan telah rusak atau hancur. Saat ini, terdapat sekitar 50.000 tentara AS yang disiagakan di bawah pengawasan CENTCOM di wilayah Timur Tengah.
(del)





























