Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia sudah mulai mengalihkan impor gas minyak cair atau LPG dari Timur Tengah.
Pada saat ini, sekitar 20% impor LPG Indonesia memang berasal dari beberapa negara di kawasan Timur Tengah.
Dia menyatakan, stok LPG nasional per hari ini mencapai 15,65 hari dan pemerintah bakal terus memperkuat stok. Salah satunya dengan mendiversifikasi sumber impor dari Timur Tengah ke sejumlah negara seperti AS dan Australia.
Bahkan, kata dia bakal terdapat dua kargo impor LPG asal Australia yang tiba di RI pada pekan lalu.
“Dengan kondisi sekarang yang di Middle East kita pecah lagi untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain. Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia. Itu untuk LPG,” kata Bahlil dalam sidang kabinet paripurna, Jumat (13/3/2026).
Kemudian, pada akhir bulan ini akan terdapat dua kargo LPG yang tiba di RI. Setelah sebelumnya pada 8 Maret terdapat satu kargo impor LPG yang diklaim Bahlil tiba di Indonesia. "Jadi Januari Februari Maret April itu insyaallah clear,” ungkap dia.
Adapun, berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.
Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia.
Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia. Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
Adapun, Pertamina Patra Niaga sudah menandatangani confirmation letterdengan Phillips 66 sebagai penegasan pelaksanaan kontrak pasokan LPG untuk periode sepanjang 2026. Total volume kontrak mencapai sekitar 2,2 juta metrik ton.
Terpisah, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyatakan perseroan sudah meneken beberapa MoU dengan calon mitra dari AS untuk melakukan pembelian komoditas migas.
Nota kesepahaman di bidang pengadaan feedstock minyak dan kilang tersebut diteken melalui anak usaha PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), masing-masing dengan ExxonMobil Corp, KDT Global Resource LLC, serta Chevron Corp.
Simon memastikan Pertamina terbuka untuk melakukan kerja sama dengan badan usaha migas AS lainnya dalam melakukan pembelian komoditas migas tersebut.
"Untuk memenuhi gap saat ini tentunya kita masih membutuhkan impor. Yang telah kami lakukan pada saat Juli, kami juga telah merintis beberapa penandatanganan MoU dengan beberapa calon mitra dari Amerika Serikat," kata Simon dalam konferensi pers, Jumat (20/2/2026) malam.
"Antara lain ada ExxonMobil, Chevron, KDT Global Resources, ada juga Hartree. Kami juga masih membuka bagi calon-calon mitra dari Amerika Serikat," tegas dia.
Sekadar catatan, Pemerintah Indonesia dan AS resmi menandatangani poin-poin kesepakatan perjanjian tarif resiprokal, salah satu poinnya memuat kepastian pembelian komoditas energi dari AS senilai total US$15 miliar atau setara Rp253,4 triliun (kurs Rp16.894).
Dalam dokumen yang dirilis Gedung Putih, Indonesia diwajibkan mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai US$3,5 miliar atau setara Rp59,13 triliun.
Selain itu, Indonesia juga akan mengimpor minyak mentah atau crude oil dari Negeri Elang Bondol dengan nilai US$4,5 miliar atau setara Rp76,02 triliun.
Terakhir, Indonesia juga harus mengimpor bahan bakar minyak (BBM) atau bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun.
(azr)



























